Sabtu, 24 Januari 2015

Jarak, Waktu, dan Taman...

Jarak. Terkadang ia diperlukan untuk memperbaiki sesuatu yang namanya rindu. Tanpa jarak, rindu bukanlah apa-apa, kita tiada kan pernah merasakannya. Seperti spasi, jarak akan menciptakan kalimat menjadi sarat makna. Spasi yang memberikan kesan menarik pada sebuah tulisan. Pun jarak. Dengan hadirnya telah tercipta begitu banyak makna, begitu banyak cerita. Tapi hei, bukankah ia juga mencipta begitu banyak luka? Ya, aku begitu naif jika berkata, "hadirmu adalah sebuah kebiasaan di hati dan fikiranku, meski kita terpisah oleh jarak". Karena meski aku dan kau tahu bahwa itu benar, namun jika kejujuran diungkapkan, luka itu pasti ada, pasti kita rasakan. Luka di balik jiwa yang tak pernah butuh pemulihan apa-apa kecuali jumpa.

Waktu. Terkadang kita terlalu bodoh hingga memasrahkan semua padanya, menyerahkan apa yang layak kita perjuangkan padanya, seakan kita tak bisa melakukan apa-apa. Dan dengan sok bijak berkata, "biarlah waktu yang kan menjawab". Padahal waktu terlalu angkuh untuk melihat betapa jahatnya rindu yamg mendera. Ia tak pernah mau tahu. Tidak, ia memang tak bisa tahu. Ia bahkan tak pernah bisa berbuat apa-apa, apalagi mendekatkan dua insan, mendekatkan kita. Lalu apakah kita hanya akan termangu melihatnya berlalu, sambil terus menunggu dan bertanya 'apa yang akan terjadi selanjutnya’? Yang ku tahu, kita tidak selemah itu. Yang ku tahu, kita lebih kuat dari waktu, kita lebih nyata dari waktu. Dan sepertinya waktu pun kini telah berada di pihak kita. Maka tiada yang harus kita takutkan, selain tuhan. Tidak badai, tidak pula gempa. Apalagi hanya angin biasa.

Rasanya, tak ada lagi yang perlu kita tunggu. Aku akan menjemputmu di suatu taman. Taman itu tak memiliki air mancur, tidak ada kolam ikan, tiada satu hiasan apapun. Taman itu tidak indah, sebab kehadiranmu saja sudah mengindahkan semuanya. Bahkan taman itu tanpa bunga. Sebab kau lah bunganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar