Rabu, 16 April 2014

Institut Teknologi yang Kurang Berteknologi

Institut Teknologi Bandung. Adalah suatu perguruan tinggi, yang telah berdiri sejak tahun 1920. Dari namanya, kita bisa langsung tahu, bahwa perguruan tinggi ini berada di salah satu kota besar Indonesia. Ya, perguruan tinggi ini berada di ibu kota Jawa Barat. Kota yang acap kali disebut-sebut sebagai kota mode. Kota yang terkenal dengan sebutan ‘Paris Van Java’-nya, Kota Bandung. Di bagian ini, di kata terakhir dari nama perguruan tinggi tersebut, masih sangat sesuai dengan kenyataannya.

Namun, jika kita melihat ke kata sebelumnya, kata ke dua dari nama perguruan tinggi tersebut, kita akan menemukan kata ‘teknologi’. Sebuah kata, yang jika dilihat di Kamus Besar Bahasa Indoenesia akan memiliki arti ‘ilmu pengetahuan terapan’. Inilah yang kemudian menjadi kata kedua dari nama perguruan tinggi tersebut.

Dari sana, seharusnya yang banyak dikembangkan dan dibahas oleh orang-orang yang berada di dalamnya adalah permasalahan teknologi itu, bukan? Seharusnya demikian, menurut penulis. Perguruan tinggi tersebut, idealnya, harus menjadi suatu tempat yang merupakan pusat pengembangan teknologi. Idealnya, banyak teknologi-teknologi baru yang berkembang dan dihasilkan dari perguruan tinggi tersebut. Idealnya, banyak pembahasan-pembahasan dan kajian-kajian ilmiah yang membahas dan mengkaji tentang teknologi. Idealnya, mahasiswa yang menjadi pembelajar di sana sibuk dengan hal-hal yang berbau pengembangan teknologi. Itulah kondisi ideal yang harusnya, menurut penulis, terjadi di perguruan tinggi itu.

Lalu, bagaimana kondisi nyata yang terjadi pada saat ini di perguruan tinggi tersebut? Kenyataan yang terjadi saat ini adalah, masih jauh dari kondisi ideal yang telah disebutkan tadi. Tidak terlalu mengecewakan, memang, penulis akui. Masih ada orang-orang di perguruan tinggi tersebut yang menorehkan prestasi gemilang di bidang teknologi. Masih ada mahasiswa dari perguruan tinggi tersebut yang mampu membuat suatu teknologi baru yang memang belum ada sebelumnya. Ya, masih ada mahasiswa yang berhasil menciptakan suatu temuan baru di bidang teknologi, semisal berbagai jenis robot pintar, yang bahkan mampu menjadi pemenang di suatu ajang perlombaan berskala internasional. Masih ada mahasiswa yang berhasil menciptakan suatu software canggih yang bisa memudahkan pengguna komputer, sesuai dengan kebutuhannya. Masih ada.

Tapi, apakah cukup dengan frasa ‘masih ada’? Frasa ini tentu sangat menggambarkan bahwa hanya sedikit dari belasan ribu mahasiswa di perguruan tinggi ini yang seperti itu. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, ada apa dengan mahasiswa yang lain? Jika ditanya pendapat pribadi penulis, maka jawaban penulis adalah mahasiswa yang lain masih terlalu sibuk dalam hal pembentukan karakter. Kebanyakan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut masih terlalu sibuk berurusan dengan pemenuhan profil kadernya. Mulai dari tahun pertama sampai tahun ke empat, selalu ada yang namanya profil kader yang harus dipenuhi. Alangkah bagusnya jika profil kader tersebut disisipi hal yang berbau teknologi. Misal, untuk jurusan farmasi, pada tigkat dua mahasiswanya harus mampu membuat suatu obat alternatif untuk suatu penyakit ringan, yang kemudian bisa dibagikan ke masyarakat. Untuk tingkat-tingkat selanjutnya penyakitnya lebih berat, misalnya. Atau untuk jurusan penerbangan, mahasiswa tingkat dua harus bisa membuat suatu pesawat tanpa awak yang bisa di kontrol dalam radius tertentu. Untuk tingkat yang lebih tinggi radius harus semakin luas, atau semakin tidak terdeteksi, misalnya. Atau apalah hal berbau teknologi lain yang bisa dikembangkan. Yang jelas, pemenuhan profil kader tidak hanya dalam membentuk karakter.

Ada hal lain yang membuat teknologi tidak terlalu berkembang di perguruan tinggi ini. Itu adalah kurangnya budaya apresiasi. Lihat saja, mungkin ada mahasiswa yang berhasil menciptakan suatu teknologi terbaru. Mungkin ada yang menuntut pemenuhan profil kader dengan cara yang penulis sebut di paragraf sebelumnya. Tapi kemudian orang-orang itu tidak terlalu diapresiasi. Mereka tidak pernah setenar orang-orang, yang katanya, berkarakter, semisal koordinator lapangan suatu acara, atau ketua kaderisasi, atau orang-orang lain yang bergerak dalam hal membentuk karakter. Kebanyakan mahasiswa beranggapan bahwa menjadi orang-orang berkarakter itu jauh lebih keren dari orang yang berhasil menemukan suatu teknologi baru. Inilah salah satu alasan, menurut penulis, mengapa kemudian teknologi tidak terlalu terperhatikan di perguruan tinggi tersebut.

Tak ada salahnya memang, membentuk karakter. Bahkan itu harus. Percuma jika seorang penemu terknologi terbaru, tercanggih, namun temuannya digunakan untuk kejahatan, bukan untuk kemashlahatan manusia. Tapi porsi pembentukan karakter harusnya tidak melebihi porsi untuk berkarya, terutama di bidang teknologi, di perguruan tinggi yang menyandang kata ‘teknologi’ itu. Harusnya lebih besar apresiasi dan dukungan yang diberikan untuk pengembanga dan pembahasan teknologi atau semacamnya. Lebih banyak forum yang bisa membahas tentang keilmuan tiap-tiap jurusannya. Lihatlah, bagaimana suatu perguruan tinggi di negeri paman sam telah berhasil menerbangkan satelit ke luar angkasa. Bagaimana dengan perguruan tinggi di negeri  ini? Entahlah.

Mungkin yang ingin penulis tekankan disini, adalah bagaimana harusnya kita lebih mengapresiasi dan mendukung orang-orang yang ingin berkarya di bidang teknologi. Jangan pernah beranggapan bahwa menjadi ketua suatu himpunan mahasiswa akan jauh lebih hebat dan lebih keren dari pada orang yang hanya sibuk di lab mengurusi percobaannya. Apresiasi itulah yang kemudian bisa membuat teknologi di perguruan tinggi tersebut tidak hanya sebatas nama, tapi juga menjadi ciri khas yang bisa dibanggakan.

Terakhir, bagaimana dengan kata pertama, kata ‘institut’? bukankah institut menunjukkan bahwa perguruan tinggi tersebut adalah perguruan tinggi khusus, yang dalam konteksnya diikuti oleh kata ‘teknologi, maka bukankah harusnya di perguruan tinggi tersebut hanya ada jurusan teknik? Kenyataannya? Ah, sudah pernah ada artikel terdahulu yang membahas masalah ini. Silakan dicek di sini.

6 komentar:

  1. Balasan
    1. bikin garis besar kaderisasi di kabinet yang ada pengkaryaan teknologinya lah roem

      Hapus
  2. Setuju bang Ibun! Rasa-rasanya ITB memang 'kurang' berkarya. Sayang sekali, padahal secara talenta berlimpah. Malahan, seandainya mahasiswa bisa berkolaborasi antarjurusan, bayangkan apa saja yang bisa dibuat. Saya belum bisa berkomentar banyak karena belum masuk jurusan dan belum begitu tahu keadaannya bagaimana, tetapi sepertinya rata-rata sibuk dengan jurusan sendiri saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, gitulah sekarang kenyataan di kampus ini

      Hapus
  3. Saya setuju sekali, kak!
    Saya maba ITB angkatan 2016 jadi belum merasakan ITB. Tapi ketika saya SMA, saya juga merasakan hal yg sama. Menurut saya di Indonesia, pendidikan terlalu "over" kaderisasi, dan terlalu sedikit "action". Dulu di SMA, yg tenar selalu ketua OSIS, atau ketua MOPD, didamba dambakan seolah-olah ia adalah orang yg memiliki karakter paling sempurna. Padahal, yang membuat SMA saya terkenal adalah prestasinya, tim OSN yang belajar dengan giat agar berhasil memenangkan lomba-lomba teori ataupun karya cipta. Tentu saja semua orang tua ingin memasukan anaknya ke sebuah sekolah karena prestasi dan pendidikan yang baik di sekolah tersebut, bukan karena MOPD(ospek)nya. Saya sendiri memilih ITB karena prestasi ITB, bukan karena kaderisasinya.

    Saya sendiri tidak terlalu menyukai konsep MOPD yg biasa dipakai di Indonesia. MOPD sendiri tidak menghasilkan apa-apa, karena teman-teman saya yg malas belajar tetap malas belajar, dan yg memang rajin belajar tetaplah rajin belajar, jadi saya tidak melihat dampak positif apapun dari MOPD. Belum lagi sampah yg ditimbulkan dari aktivitas MOPD, tas kardus, nametag, topi, dll, bayangkan itu semua menjadi sampah setelah kegiatan MOPD selesai. Saya sering berpikir seharusnya kegiatan MOPD di SMA adalah seperti kerja bakti. Misalnya seluruh siswa baru diajak bersama sama membantu warga sekitar membersihkan lingkungan selama 1 minggu, kegiatan ini tentu tetap bisa menjadi sarana awal membentuk "solidaritas" para siswa baru(seperti yg diharapkan dari kegiatan MOPD), bedanya adalah kegiatan semacam ini berdampak positif dan tidak menghasilkan sampah.

    Kalau boleh saya tahu, kakak angkatan berapa dan jurusan apa kak di ITB? Siapa tahu nanti kita akam bertemu di ITB kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bagus tuh pemikirannya tentang MOPD disekolahnya, mungkin karna sekarang udah jadi alumni bisa balik ke sekolahnya dan menyampaikan pendapat itu ke pembina osis atau langsung ke osis/MOPD nya biar ke depannya gak kaya gitu lagi hehe.
      Saya jurusan teknik tenaga listrik di ITB, angkatan tua.

      Hapus