Kamis, 01 Mei 2014

"Akulah Matahari!"

Di suatu ketika, di sebuah rumah sakit yang khusus untuk menangani pasien yang memiliki gangguan kejiwaan, terjadi sebuah cerita. Cerita itu lebih tepatnya terjadi di salah satu bangsal yang menjadi tempat peristirahatan para pengidap gangguan kejiwaan, di salah satu kamar yang menampung dua orang dengan gangguan kejiwaan. Begini ceritanya.

Di kamar itu, di kamar yang berisikan dua orang yang memiliki gangguan jiwa, salah satu dari mereka, sebut saja A (mohon maaf sebelumnya jika ada yang bernama A), mengangkat meja yang memang disediakan di tiap kamar di rumah sakit tersebut. Si A mengangkat meja tersebut tepat ke tengah-tengah kamarnya. Lantas ia pun menaiki meja tersebut, sembari merentangkan ke dua tangannya selebar-lebarnya ke kiri dan ke kanan. Kemudian si A berkata pada teman kamarnya, sebut saja si B (mohon maaf lagi seblumnya jika ada yang bernama B), “hoi B, lihatlah! Aku ini adalah matahari, akulah sang surya! Akulah yang menyinari dan menerangi seluruh dunia ini! Lihatlah kehebatan ku! Lihatlah cahaya yang terpancar dari seluruh tubuh ku ini!”

Lantas si B pun terlihat sama sekali tidak terima dan menyanggah pernyataan si A tersebut. “Dasar gila kau A!  Sejak kapan pula kau jadi matahari, dasar gila ngaku-ngaku yang aneh!” sahut si B. “Ah, kau yang gila B, masak cahaya ku tak bisa kau lihat?! Dasar gila kau B” balas si A. “Kau yang gila, A!”, “TIdaklah, kau yang gila, B!”. Akibatnya, mereka sempat berdebat untuk beberapa saat, saling tuduh. Setelah beberapa saat berdebat, B mengancam,”Dasar gila! Ku laporkan kau ke pak dokter, A!”. “Kadukan saja sesukamu!” tantang A tanpa gentar sedikitpun.

Si B pun pergi menemui dokter di ruangan dokter tersebut. Di sana, ia melapor,”Lapor, Pak Dokter! Teman kamar saya, si A yang gila itu Pak Dokter, sekarang udah tambah pula gilanya satu lagi Pak Dokter!”. “Loh, kenapa pula bisa nambah gilanya? Kenapa kau bilang begitu?” Tanya pak dokter. SI B menjawab,”Iya Pak Dokter, soalnya sekarang dia lagi naik ke atas meja di di tengah-tengah kamar kami, sambil direntangkannya tangannya lebar-lebar, terus dia bilang pula kalau dia itu adalah matahari yang menyinari dunia ini, kan tambah gilanya satu tu Pak Dokter!”.


“Wah, kayanya si B ini udah mulai sehat nih, udah mulai kurang gilanya, udah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah dia sekarang,” benak pak dokter. Kemudian pak dokter berkata pada si B,”Baiklah kalau gitu, makasih infonya, B! Sekarang saya akan ke kamar kalian untuk menyuruh si A itu turun dari meja,”. Tapi kemudian si B mencegah pak dokter yang ingin menuju kamarnya.”Waduh kalau masalah itu saya betul-betul memohon minta tolong sama Pak Dokter, tolonglah Pak, jangan turunkan si A itu, Pak. Kalau dia Pak Dokter turunkan, bisa gelap nanti jadinya dunia ini Pak, saya takut gelap, Pak!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar