Rabu, 27 November 2013

Kapitalis Masuk Kampus

2 hari yang lalu indonesia memperingati, meskipun hanya segelintir orang yang ingat, hari guru nasional. guru, mereka yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, di beberapa dekade belakangan ini telah sangat sedikit sekali orang yang benar-benar ingin menjadi seperti mereka. sangat sedikit orang yang benar-benar memiliki cita-cita menjadi guru. sepertinya keinginan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa itu kini telah kalah saing dengan menjadi pahlawan yang berjasa, yang mampu menolong seorang yang ditimpa penyakit bahkan menyelamatkan mereka dari kematian. merekalah dokter.

ya, profesi menjadi guru dewasa ini telah kalah pamor dibandingkan dengan profesi menjadi dokter. tak tanggung-tanggung, banyaknya peminat profesi yang satu ini bisa dilihat dari banyaknya fakultas kedokteran yang ada di negara ini. bak jamur yang tumbuh di musim penghujan, hampir di setiap universitas yang ada di negara ini bisa dikatakan pasti memiliki fakultas kedokteran. bahkan bukan tidak mungkin tidak lama lagi institut teknologi seperti ITB dan ITS juga membuka fakultas yang peminatnya pasti membludak tiap tahun itu. siapa yang bisa menolak? toh, bahkan di institut teknologi bandung yang notabene berlabelkan kata "TEKNOLOGI", tetap memiliki sekolah bisnis. bukankah itu menunjukkan suatu ciri kapitalis, yang ingin menjadikan hal tersebut sebagai pasar yang memiliki nilai jual lebih di sebuah institut teknologi? mencari keuntungan lebih, itulah adanya.

(gambar disadur dari sini)
hal ini jugalah yang kini terjadi pada fakultas kedokteran, yang harusnya menjadi pencetak orang-orang berhati mulia untuk selalu menolong sesama dengan keahlian yang dimilikinya. sepertinya hal itu kini telah sedikit bergeser. tampaknya kapitalis benar-benar telah masuk kampus. lihatlah bagaimana mahalnya biaya pendidikan kedokteran. meski begitu, bukankah peminat fakultas tersebut tetap membludak? hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para kapitalis untuk meraup keuntungan, dengan mendirikan fakultas kedokteran di unversitas-universitas yang ada.

lalu, bagaimana dengan orang-orang yang ingin bergabung ke fakultas tersebut? apakah benar, orang-orang yang rela menggelontorkan sejumlah besar biaya demi memasuki fakultas itu, atau bahkan mereka yang menerima suntikan dana dari manapun itu, hingga tidak harus membayar mahal atau bahkan tidak perlu membayar, benarkah mereka semua mengambil pilihan melanjutkan pendidikan di fakultas itu untuk bisa menolong sesama? ataukah hanya karena fakultas tersebut menjanjikan keluarannya pasti memiliki pekerjaan, bahkan dengan gaji besar, apalagi dengan mengambil spesialis? yang mana?

yang manapun alasannya, semoga allah selalu memberi petunjuk pada kita untuk selalu menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, tidak hanya bagi keluarga, apalagi hanya bagi diri sendiri. semoga allah tidak memberi pemikiran kapitalis kepada mereka yang harusnya menolong sesama tanpa pandang harta. semoga allah memberi petunjuk pada para dokter yang tengah melakukan aksi mogok hari ini, apakah yang mereka lakukan itu adalah tindakan yang terbaik. semoga allah tidak memanggil mereka yang membutuhkan uluran keahlian para dokter hanya karena para dokter mengabaikan mereka hari ini.

5 komentar:

  1. Sekadar info gan, nih kalau mau bacaan lebih, blognya kenalan ane yang lagi S3 Kedokteran di Univ Tohoku. Tulisan langsung, fresh dari dokter sendiri. Hoho
    http://arifs777.wordpress.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuih makasih bgt nih, mantap gan!
      berarti dokter emang gak bisa ngapa-ngapain kalau si pasien gak ada dana dan gak ada bantaun dana ya, begitu

      Hapus
    2. Ya, secara umum gitu.
      Disitulah muncul banyak masalah, gara-gara RSUD banyak yang dananya mampet, dana JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan masyarakat) yang nunggak ampe 1,8 T.

      Apalagi kalau udah bicara lingkup klinik, puskesmas, yang di beberapa tempat sampe harus rela rugi karena pasiennya banyak yang dari kalangan kurang mampu.

      Seperti masalah di sektor lain, penyakitnya terutama ada di sistem, serta mental pelaku sistem.

      Dan pertanyaan yang kemudian selalu muncul:
      Apa yang harus kita lakukan?

      Hapus
  2. sedikit klarifikasi ttg aksi mogok yang dimaksud, sebenarnya lebih tepat disebut aksi solidaritas buun. aksi dari dokter seluruh indonesia atas tuduhan malpraktik terhadap sejawatnya. ini bukan DEMO atau bukan aksi anarkis bukan juga atas dasar "materi". yang ditiadakan itu pelayaan di poliklinik, sama halnya dengan hari Minggu dan tanggal2 merah lainnya.
    media aja yang lebay bun, kenapa di tanggal2 merah lainnya ga ada pemberitaan seperti kemaren ini? karena berita 'hot' kan.
    Oiya, untuk hal2 emergency tetep ada yg stand by di IGD. tidak ada yang dirugikan. karena pelayanan emergensi dan masyarakat miskin masih dibuka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya don, mantep bgt don infonya, baru tau kalau itu sama kaya tanggal2 merah biasanya, makasih don

      sebenernya fokusnya bukan ke sana sih don, tapi pendidikan kita yg dirasuki kapitalis

      Hapus