Minggu, 20 Maret 2016

Merelakan

Melepasmu, adalah sebuah kata yang paling ia benci. Kau mungkin tahu itu, mungkin juga tidak. Baginya, melepasmu sama saja seperti melepas setengah bagian dari kehidupannya. Baginya, melepasmu sama saja seperti bersiap menahan air mata saat menemukan hal yang berhubungan dengan kalian, saat melewati jalanan yang biasa kalian lalui besama, saat menghabiskan waktu di  tempat yang biasa kalian gunakan untuk berbagi waktu berdua. Baginya, melepasmu ada sebuah hal yang tak pernah ia harap ada dalam kisah hidupnya. Baginya, melepasmu adalah seberat itu, sesulit itu, sesakit itu, sepahit itu.

Tapi diperjalanan tadi, ia berkata padaku. Bahwa mungkin melepasmu adalah sebuah keharusan untuk menghilangkan segala rasa bersalahnya terhadap dirinya, dan terhadapmu. Hadirnya kerelaan untuk melepasmu, bukan selalu menjadi bermakna bahwa rindu itu kini telah tiada, bahwa rasa itu telah pergi untuk selamanya. Sebuah kesadaran dalam dirinya, bahwa Amor Vincit Omnia tidak harus selalu berarti kemenangan atas kedekatan dan kepemilikan. Lebih dari itu, ia menyadari bahwa frasa itu menyimpan arti lain, bahwa cinta akan menemukan jalan kebahagiaannya sendiri. Karena kebahagiaan tidak pernah dijamin oleh kepemilikan atas sesuatu.

Maka setelah perbincangan dengannya, setelah untaian kalimatnya berakhir, baginya tak ada lagi pintu yang harus diketuk. Tak ada lagi kunci yang harus dicari. Tak ada lagi rumah yang harus dibenahi. Hanya menjalani jalan yang telah digariskan untuknya, dan untukmu. Biarkan semuanya berjalan apa adanya bersama dengan doa, tanpa satupun rekayasa yang tercipta.

“Jika dia memang bagian diriku, tulang rusukku yang hilang, maka pasti suatu saat kami akan kembali bersama.” Dia berkata demikian. “Kalau ternyata bukan dia?” tanyaku. Dia tertunduk, tersenyum lirih. “Entahlah” tutupnya.

Senin, 29 Februari 2016

Kita Berbeda

Pertemuan seorang lelaki yang tak peka dan seorang perempuan yang pendiam adalah sebuah hal yang sangat rumit. Adalah sebuah pertemuan yang tidak seharusnya terjadi. Adalah pertemuan yang tak  mungkin bertahan lama. Adalah sesuatu yang tidak sehat. Adalah suatu hal yang pasti menyebalkan. Adalah mimpi buruk.

Lelaki tak peka, yang kurang punya keahlian untuk membaca situasi, yang tidak bisa mengerti arti dari sebuah keterdiaman, yang tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk tahu apa yang ada di dalam hati. Bertemu denga perempuan pendiam, yang serperti hujan jatuh begitu saja tanpa berkata apa-apa, yang tiba-tiba meneteskan air mata tanpa memberi tahu penyebabnya, yang selalu menunggu untuk dimengerti. Pertemuan lelaki dan perempuan ini adalah sebuah bencana, itu kata mereka.

Tapi tidak untuk kita. Tapi kita berbeda. Ya benar memang, kita adalah seorang lelaki tak peka dan seorang perempuan pendiam, tidak ada yang memungkiri itu. Kita mungkin adalah dua orang yang terkadang bermasalah dalam memahami satu sama lain. Kita mungkin terkadang berbeda pendapat untuk berbagai hal. Tak jarang permasalahan muncul di antara kita hanya karena aku yang tidak bisa mengeri apa maumu atau karena kamu yang tidak mau mengutarakan apa yang ada di hatimu. Tidak jarang hal-hal itu terjadi di perjalanan kita.

Maaf jika kita berbeda. Tapi kebersamaan akan tetap berpihak pada kita. Ada suatu hal yang membuat kita selalu berhasil melewati semua api yang mencoba memisahkan kita. Suatu kemauan yang tak mau terpisahkan melekat pada kita. Bukankah kita akan selalu seperti ini. Bukankah kita akan selalu kuat menghadapi apapun yang terjadi nantinya. Bukankah kita akan selalu bertahan. Aku kira jawabannya adalah ya, selama kita masih punya satu tujuan yang sama. Karena dengan tujuan yang sama, siapapun pasti akan bersama nantinya di tujuan itu.

Tidak ada yang perlu kita takutkan. Walaupun semua orang berubah. Walaupun aku adalah lelaki tak peka. Walaupun kamu perempuan pendiam. Semua itu tidak akan pernah merubah apa yang ada di antara kita. Kita akan selalu menjadi terang dan gelap, panas dan dingin. Aku ada karena kau telah tercipta. Dan kita akan selalu menjadi seperti ini. Berbeda, namun saling membutuhkan.

Selasa, 17 November 2015

Hujan, Bintang, dan Cahaya



Hujan malam ini seakan mewakili perasaannya, perasaan seorang lelaki bernama Bintang. Hujan malam ini membuat bintang di langit seakan hilang, tidak terlihat sedikit pun cahanya. Begitulah yang malam ini dirasakan oleh Bintang. Malam ini ia tidak bersama Cahaya, kekasihnya. Derasnya hujan malam ini pun berhasil mewakilkan air matanya yang bahkan tidak mampu lagi menetes keluar dari matanya. Air matanya malam ini jatuh ke dalam, jatuh tepat di hati, dan menimbulkan pedih yang tak terkatakan dan tak seorang pun yang dapat melihat kepedihan itu. Pedih yang membuat Bintang tak kuasa melawan penyakit lama yang dideritanya.

Apa yang terjadi dengan Bintang dan Cahaya. Entahlah, tak seorang pun yang tahu. Hanya mereka berdua yang tahu. Bintang tahu, semua ini pasti akan terjadi. Akan ada waktu dimana perjalanannya bersama cahaya tak selalu mulus dan bahagia. Akan ada waktu dimana mereka akan menghadapi masalah-masalah seperit ini dalam perjalanan mereka. Perjalanan mereka menuju suatu kehidupan yang lebih bahagia nantinya. Tapi malam ini Bintang begitu lemah, ia bahkan tak mampu menahan air matanya yang tak lagi mau jatuh keluar.

Tak sengaja Bintang membuka memori dan ingatan lama bersama yang tercinta, Cahaya. Sebuah album, yang hanya  berisikan gambar mereka berdua. Gambar yang tak mampu bersuara, namun sanggup berbicara kepada Bintang tentang bagaimana bahagianya semua yang dulu telah ia lakukan bersama Cahaya. Semua itu membuat kenangan masa lalu Bintang terbuka seketika. Bagaimana bahagianya mereka saat berjalan bersama di sebuah padang rumput yang luas, berlarian berdua, menghabiskan waktu hanya untuk mereka. Bagaimana susahnya menahan rindu yang tertanam akibat jarak jauh yang ada di antara mereka, dan bagaimana bahagianya mereka saat kembali bertemu. Bagaimana bahagianya saat mereka menghabiskan waktu berbagi kegembiraan dan cerita hanya berdua, mengabaikan semua yang ada selain mereka. Seakan-akan di dunia ini hanya ada mereka berdua,Bintang dan Cahaya.

Tapi malam ini semua itu hanya ada di dalam ingatan Bintang, entah dengan Cahaya. Yang pasti Bintang terhanyut oleh kesedihannya semakin dalam akibat semua kenangan itu. Satu hal yang ada di fikiran Bintang malam ini. Cahaya, ya, hanya Cahaya. Yang ia dapatkan dari semua kenangan itu adalah bahwa dari dulu ia telah mencintai Cahaya. Bahwa ia mencintaimu, dan akan selalu seperti itu. Semoga kalian selalu bersama hingga akhir waktu.