Tampilkan postingan dengan label Perasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perasaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Oktober 2017

Rindu

selembut tatapan lembayung senja
ku rasakan kehangatannya dari bola matamu
yang saat itu tersenyum melihatku
tiada cahaya lain yang ku damba
tatapanmu, mempesona

semerdu rintik hujan membasahi bumi
ku rasakan kesejukannya dari alunan suaramu
yang saat itu tersenyum berbicara padaku
tiada alunan lain yang ku nanti
suaramu, menyejukkan hati

seindah pesona malam berbintang
ku rasakan kecantikannya dari sosokmu
yang saat itu tersenyum di pelukanku
tiada kasih lain yang ku rasa
dirimu, satu yang tercinta, selamanya

berharap senja tak pernah pergi
meninggalkan sore yang lelah

berharap hujan membasahi seluruh bumi
menyirami hati yang penuh pilu

berharap malam berjalan pelan
menyampaikan rasa ini padamu
mempertemukan kita dalam suatu ruang rindu

Selasa, 26 September 2017

Rindu

pada lebat belantara hutan semeru
sepi dan sendu ku lagukan merdu
pada semua gurau yang menyisakan parau
ku sertakan rayuan yang masih malu-malu
pada lirik-lirik yang penuh ragu
rindu tetap melaju menyerbu telingamu penuh seru
pada setiap waktu yang berlalu dalam jemu
biarkan semua suara tetap merdu
pada mimpi-mimpi yang terendap semu
bayangmu selalu menemani malam yang layu
pada semua kenangan yang menjadi rindu
ku harap waktu kan membawa temu
pada angin yang berhembus lugu
ku titipkan pesan ini untukmu

Selasa, 04 Juli 2017

Percaya deh, sama Allah

Hasil gambar untuk surah maryam 
Baru kali ini mau nulis tapi kehabisan kata-kata, terlalu indah buat diungkapkan. Semua karena 5 ayat di atas. Entah mau gimana ngasih penjelasannya, mau dibuat bahasa baku juga susah. Mungkin lebih tulisan ini jadi self reminder aja, biar ke depannya lebih yakin untuk curhat sama Dia.

Awalnya, entah kenapa tiba-tiba suka dengan ayat ini. Jatuh cinta begitu saja dengan ayat ini, cuma dengan dengar ada ustad yang bacain ayat ini waktu sholat, bahkan cuma dari instagram. Awalnya suka karena mau latihan baca Quran kaya si ustad itu baca, itung-itung persiapan siapa tau nanti jadi imam RT (rukun tetangga atau rumah tangga ya). Habis itu coba-coba baca artinya, kayanya awalnya biasa aja. Paling di ayat tiganya,"yaitu ketika dia (Zakariya alaihis salam) berdoa kepada tuhannya dengan suara yang lembut", jadi sadar kalau mungkin selama ini doa masih terburu-buru, suaranya kurang lembut, atau pengen cepat-cepat. Padahal, kalau minta tolong sama manusia, dosen misalnya, pasti suaranya diatur sedemikian sehingga gimana caranya si orang itu mau nolongin itu Suara kita mungkin kita bikin mendayu-dayu syahdu, memelas biar orang itu tersentuh mau nolongin kita. Padahal orang itu kekuasaannya terbatas buat nolongin kita. Lah ini minta sama yang maha penolong, yang berkuasa atas segala sesuatu, yang tinggal bilang kun maka apapun pasti terjadi bahkan yang tidak mungkin menurut akal kita, kita mintanya seadanya, terus berharap mau dikabulkan cepat. Antum sehat, bun? 

Awalnya yang kefikiran cuma itu. Sampai datang satu fikiran, ada satu doa yang udah sejak kira-kira sekitar 4 bulan yang lalu udah dibaca hampir di setiap sujud, di antara azan dan qomat, di saat doa yang dipanjatkan di waktu itu ibarat anak panah yang melesat tepat menuju sasaran tanpa meleset, di sepertiga malam terakhir, tapi kenapa doa itu masih belum dikabulkan sama Allah. Bahkan sempat mikir dari sudut pandang pribadi kala doa itu ga diterima. Padahal udah sampai baca doa yang sangat indah untuk itu, doa istikharah. Buat yang belum pernah sangat disarankan untuk sesekali baca doa itu. Apapun dilema yang kita hadapi, libatkan Allah dalam dilema kita itu. Baca doa itu, cantik banget doa yang diajarin Rasulullah alaihis sholatu wassalam yang satu itu. Dan pasti dapet jawaban lagi dari doa itu. Nah balik ke cerita, sempet bingung dan galau kenapa udah beberapa bulan minta belum dikabulkan, istikharah juga belum dijawab-jawab, sempat timbul pertanyaan kenapa, Apa yang salah. 

Sampai akhirnya, lagi-lagi Allah itu baik banget, dan jujur banget. Allah bilang bakal ngasih jalan keluar dari arah yang tidak kita duga-duga (ath-thalaq ayat 2-3 kalau ga salah), dan ternyata betul. Tiba-tiba dengan cara yang gak saya duga, 5 ayat di atas yang udah mulai dikagumi sejak sekitar sebulan lebih yang lalu, dibaca tiap hari buat latihan sejak waktu pertama kali dengar, ayat itu muncul lagi. Tapi kali ini dengan penjelasan ayatnya, bukan cuma sekadar artinya. Tadinya mikir makna ayat 4 nya,"Ya Tuhanku, sungguh tulangku sudah lemah dan rambutku sudah memutih, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau" tadinya mikir kalau itu maksudnya Allah selalu ngasih jawaban ke Zakariya di semua doanya, tapi doa minta anak ini yang belum dikabulkan Allah. Tapi ternyata maksud curhatan Nabi Zakariya itu udah lama berdoa minta anak, bahkan sampai dia tua renta, waktu tulangnya udah lemah dan rambutnya udah putih, tapi doa selama itu masih belum dikabulkan Allah. Tapi apa kata Nabi Zakariya? Perkataan beliau ini yang bikin rasanya dada ini tiba-tiba sesak, tiba-tiba bawah mata agak berair, tiba-tiba yakin untuk selalu curhat sama Allah. Nabi Zakariya yang dari muda nikah sampai tua terus berdoa tapi belum dikabulkan, tapi beliau tetap bilang, "Ya Allah udah selamau itu aku berdoa padamu, tapi jujur ya Allah, aku gak pernah sedikitpun merasa kecewa karna doaku ini belum engkau kabulkan, aku bakal terus berdoa minta ini kepada-Mu ya Allah, karna memang cuma Engkaulah yang maha berkuasa atas segala sesutau, Engkau tidak akan mengecewakan hamba-Mu, jadi ya Allah, aku ga pernah kecewa walaupun udah puluhan tahun minta masih belum dikabulkan".

Nabi Zakariya ngomong gitu ke Allah, dan itu jujur. Beliau ga pernah kecewa dan terus lanjut doanya. Lah ini seorang ibun yang bukan siapa-siapa, bukan nabi, amalannya jauh dibanding seorang Zakariya, baru beberapa bulan doa udah mau berhenti? Antum sehat, Bun? 

Teruslah berdoa, selama hal itu masih dalam kadar boleh untuk didoakan. Allah itu baik banget. Percaya deh. Curhatlah sama Allah, pasti gak bakal kecewa. Pasti.

Kamis, 08 Juni 2017

Apa yang Harus Dilakukannya

Ada yang berbeda pada harinya hari ini
Sesuatu yang membuatnya merasa bahagia
Namun di satu sisi juga membuatnya merasa hampa
Ada yang berbeda pada harinya
Sesuatu yang membuatnya tersenyum
Namun disaat bersamaan air mengalir perlahan membasahi sudut mata dan pipinya

Hari ini, entah ada apa dibaliknya, kau hadir di mimpinya
Bukan mimpi yang sederhana, setidaknya untuk seseorang sepertinya
Yang selalu berharap akanmu
Yang selalu menyisipkan doa di setiap sujud untuk hidupnya denganmu
Dan di mimpinya, kau datang meraih tangannya
Lalu dengan segera menyeretnya untuk bertemu dengan ibu dan ayahmu
Kau hadir di mimpinya, seolah memaksanya untuk segera meminangmu

Kau tahu, terbangun dari mimpi membuatnya tersenyum
Untuk pertama kalinya, sosok yang didamba hadir di dekatnya
Perempuan yang ia harap menjadi ibu untuk anak-anaknya 
Walau hanya sekedar mimpi, ia bahagia untuk sekadar melihat wajahmu

Tapi kemudian fikirnya menyadarkannya
Bahwa saat ini ia bukanlah siapa-siapa, belum
Jangankan penghasilan tetap, rumah tempat berteduh
Apalagi tabungan berlebih untuk biaya menikah
Bahkan ia masih kesulitan menyelesaikan masa pendidikannya
Bagaimana pula ia akan menghadap orang tuamu dengan dirinya saat ini
Untuk saat ini, ia harus melakukan apa

Dan ketakutannya bertambah, saat ia membayangkanmu
Lelaki mana pula yang tidak ingin setengah agama mereka disempurnakan oleh perempuan sepertimu
Ditambah kondisimu saat ini yang dia fikir sudah sangat wajar bila ada yang meminangmu
Apa yang bisa dilakukannya saat ini, dibanding lelaki lain yang mungkin sudah lebih siap
Ia bimbang, memikirkan apa arti siap untuk menyempurnakan agama ini
Fikiran itu membuat air tak sengaja membasahi sudut matanya
Untuk saat ini, ia harus melakukan apa

Kehadiranmu di mimpinya hari ini membuatnya semakin bertanya-tanya
Akankah dirinya akan bisa menyatakan rasa itu padamu
Karna jauh dilubuk hatinya
Ia sangat ingin segera menyempurnakan separuh agamanya denganmu
Dan dia hanya berharap agar pemilik hati menjadikan hatimu merasakan hal yang sama dengannya

Terimakasih darinya untukmu
Telah bersedia hadir di mimpinya
Untuk bahagia
Sekaligus resahnya

Rabu, 22 Februari 2017

Apa Kabar

Halo kalian

Kalian apa kabar?
Udah itu aja
Cuma pengen tau
Gimana kehidupan kalian
Semua berubah
Sedikit kehilangan
Terlalu banyak kenangan
Semoga kalian selalu baik
Ketemu lagi ya kapan-kapan

Selasa, 06 Desember 2016

Mencintaimu dalam Ketidaksempurnaan

Kau pernah berujar
Bahwa cintamu sempurna untuknya
Dan kini ku sadari
Bahwa yang telah sempurna hanya bisa berkurang
Tidak akan pernah bisa bertambah
Maka begitulah cintamu
Yang semakin hari semakin berkurang

Maka izinkalah aku mulai mencintaimu
Mencintaimu dalam ketidaksempurnaan
Cintaku mungkin memang tidak sempurna
Tapi dengan begitu ia akan selalu bertambah
Dalam ikatan suci yang terikat janji
Antara aku dan lelaki pertama di hidupmu
Antara aku dan ayahmu

Sabtu, 29 Oktober 2016

Ada Dia


Ada dia yang bahagia akan senyummu, tapi tak bisa selalu menatap indahmu

Ada dia yang selalu merindukanmu, tapi tak pernah bisa menyapamu

Ada dia yang menulis untukmu, tapi entah kapan kau tahu bahwa tulisannya tentangmu

Ada dia yang ingin bersamamu, tapi hanya bisa berharap pada waktu

Ada dia yang berusaha untukmu, tapi tak pernah tau apakah usahanya akan sampai padamu 

Ada dia yang menyisipkan harap untukmu, tapi selalu takut bukan dia yang ada di hatimu 

Ada dia yang mungkin tidak terfikir olehmu, tapi dalam doanya selalu menyebut namamu

Ada dia yang mempersiapkan diri untukmu, tapi akankah dia yang ditunggu olehmu

Rabu, 31 Agustus 2016

Andai Hidayah Bisa Ku Beli

"Andai hidayah itu seperti buah yang bisa ku beli, maka akan ku beli berkeranjang-keranjang agar bisa aku bagikan kepada orang-orang yang aku cintai"
-Imam Syafi'i
 
Untukmu, orang-orang yang ku sayangi. Andai dapat ku beli, maka tidak ada yang lebih ingin aku beli kemudian ku berikan kepada kalian selain dari hidayah Allah. Seandainya bisa, ingin ku berikan  kepada kalian nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada makhluknya selama hidup di dunia. Seandainya bisa, ingin ku belikan untuk kalian kenikmatan yang tiada duanya di dunia ini. Seandainya bisa, ingin ku bagikan kepada kalian hidayah yang yang Allah berikan untuk hamba-Nya yang Ia cintai.

Untukmu, orang-orang yang ku sayangi. Aku tidak punya daya untuk itu. Maafkan aku, itu bukan kuasaku. Itu murni urusan Allah Jalla Jalaluhu. Aku tidak bisa membeli hidayah untuk ku bagikan sendiri. Bahkan, aku tidak bisa menjamin apakah diriku akan selalu mendapat hidayah dari Allah. Maka kita hanya bisa berusaha mencari hidayah yang murni hanya dari Allah. Tidak ada yang bisa memberikan hidayah selain Allah, bahkan tidak pula seorang rasul pun bisa melakukannya. Lalu apa dayaku, yang hanya manusia yang penuh dengan dosa, yang aku bahkan tidak tahu apakah amalanku ada yang diterima, apakah ada dosaku yang diampuni.

Untukmu, orang-orang yang sangat ku cintai. Maafkan aku. Aku tidak bisa membagikan hidayah pada kalian, walaupun aku sangat ingin. Ketahuilah, aku benar-benar ingin membagikan hidayah kepada kalian. Akan ku berikan nikmatnya hidayah untuk kalian. Agar kita bersama bisa merasakan kenikmatan yang paling nikmat yang diberikan Allah kepada makhluknya di dunia. Andai ku bisa, ingin ku bagikan hidayah kepada kalian. Agar aku bisa selalu bersama kalian. Agar Allah menyatukan kita dalam kehidupan dunia, hingga mempersatukan kita di kehidupan akhirat kelak, di dalam surga-Nya nantinya.

Andai hidayah bisa ku beli, maka akan ku beli berpapun harganya. Akan ku berikan satu untukmu, orang yang sangat ku sayangi, sebagai hadiah terbaik dariku yang bisa ku persembahkan untukmu. Agar aku bisa selalu bersamamu, sampai di surga nanti.

Jumat, 26 Agustus 2016

Untukmu, yang Merasa Sendiri

Untukmu, yang merasa sendiri

Ketahuilah teman, kita tidak pernah benar-benar sendiri. Selama kita hidup di dunia ini, kesendirian itu tidak pernah sekali pun ada dalam cerita kehidupan kita. Sedetik pun tidak pernah kita benar-benar sendiri. Percayalah, akan  ada yang selalu bersama dan menyertai kita.

Untukmu, yang merasa sendiri
Lihatlah lebih jauh dengan mata hatimu, terawanglah lebih dekat dengan kacamata batinmu. Lalu tanyakan pada dirimu, "benarkah saya saat ini sendiri?". Dan kamu akan menemukan jawabannya, jawaban berupa bisikan di dalam hati. Ketahuilah, bisikan hati berasal dari dua makhluk yang akan selalu menyertai kita. Jika bisikan itu mengajak kita untuk berbuat kebaikan, maka bisikan itu adalah suara dari malaikat hafazhah. Malaikat yang selalu ada bersama kita untuk mengajak kita, membisikkan kepada kita untuk selalu melakukan kebaikan. Namun jika bisikan itu mengajak kita untuk berbuat keburukan atau kejahatan, maka bisikan itu adalah suara setan dari golongan jin qorin. Jin yang selalu akan membisikkan dan mengajak kita untuk melakukan keburukan dan meninggalkan kebaikan. Maka dari mana datangnya perkataan dan perasaan bahwa kita sendiri?

Untukmu, yang merasa sendiri
Ingatlah bahwa selain malaikat hafazhan dan jin qorin, ada dua malaikat lain yang juga selalu menyertai kita kapan pun dan di mana pun kita berada. Mereka selalu meyertai kita untuk mencatat seluruh perbuatan yang kita lakukan, tanpa terkecuali, tanpa terlewatkan walau satu perbuatan yang sangat kecil. Mereka adalah malaikat raqib dan atid. Lalu bagaimana bisa kita merasa takut saat sendiri? Tiga malaikat bersama kita, yang mana mereka adalah makhluk yang sangat luar biasa kuat. Maka tidaklah pantas kita merasa takut terhadap makhluk mana pun di saat kita sendiri, karena sejatinya kita tidak benar-benar sendiri.

Untukmu, yang merasa sendiri
Jika dirimu merasakan sepi saat sendiri, lihatlah baik-baik dengan hatimu. Kita tidak pernah benar-benar sendiri. Ada Dia yang pasti selalu siap menemani kita, mengawasi kita, menjaga kita, mendengarkan kita. Maka jika merasa sendiri, ungkapkanlah keluhanmu pada-Nya, tumpahkanlah air matamu di hadapan-Nya, berkeluhkesahlah sambil bersujud untuk-Nya. Kita tidak pernah benar-benar sendiri, ada Allah yang selalu siap menemani dan bersama kita. Dan cukuplah Dia sebagai satu-satunya penolong kita, pasti cukup. Maka dari mana datangnya kita masih merasa sendiri?

Untukmu, yang merasa sendiri
Bersabarlah. Suatu saat, kelak kita akan bertemu dengan-Nya, dzat yang selalu bersedia dan tanpa lelah menemani kita bagaimapun kondisi kita. Maka janganlah bersedih, jika dirimu merasa sendiri.

Rabu, 20 Juli 2016

Aku Ingin Pulang

Dunia, adalah suatu tempat yang penuh dengar berbagai macam kenikmatan, berbagai macam hal indah, berbagai macam kesenangan. Dunia ini penuh dengan kelezatan dan kenyamanan yang ditawarkannya untuk semua orang yang hidup di dalamnya. Sangat banyak yang ditawarkan oleh dunia, yang jika kita nikmati itu hati kita akan terasa sangat senang, sangat nyaman, sangat damai. Betapa banyaknya keindahan dan kenikmatan dunia yang bisa kita ambil dan kita raih selama kita masih hidup di dunia ini. Sangat banyak sekali yang ditawarkan oleh dunia. Tinggal bagaimana kita bisa meraihnya, tinggal bagaimana kita bisa mendapatkannya, tinggal bagaimana kita bisa menikmatinya, seluruh kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia.

Kini umurku di dunia ini telah hampir menginjak dua puluh tiga tahun. Aku sudah hidup di dunia ini selama hampir dua puluh tiga tahun. Hampir seluruh masa itu aku habiskan untuk menikmati kenikmatan yang ada di dunia ini, tanpa sedikitpun berfikir keras bagaimana cara untuk mendapatkannya. Seakan-akan kenikmatan itu datang begitu saja kepadaku. Tak pernah terfikir olehku, bahwa sesungguhnya bukan ini  yang seharusnya ku kejar. Bukan ini yang seharusnya ku tuju. Bukan ini yang seharusnya tempat di mana aku merasa nyaman. Bukan tempat ini yang seharusnya membuatku merasa betah. Bukan. Dunia bukanlah rumahku.

Adalah kesendirianku yang menyadarkan bahwa dunia ini tak lebih hanyalah sebuah tempat persinggahan bagiku. sebelum aku kembali pulang ke rumahku yang sebenarnya nanti. Kesendirianlah yang menyadarkanku, bahwa memang dunia bukanlah tempatku. Bahwa dunia bukanlah rumahku. Kesenidirian itu datang ketika aku tersadar bahwa nanti di kehidupanku yang akan datang di dunia ini, aku akan berjuang sendiri untuk apa yang aku inginkan, tanpa ada satu orang pun yang mau menemani jalanku untuk mencapai tujuanku tersebut. Bahkan di kesendirian jalan menuju tujuan tersebut, pasti ada orang yang tidak senang terhadapku. Akan ada orang yang suka mengejekku. Akan ada orang yang senang melihatku terjatuh. Akan ada orang yang menertawakanku. Akan ada orang yang ku percaya, namun dia mengkhianati kepercayaanku padanya. Akan ada orang yang ku beri kebaikan, namun dia bebalik menjelekkanku dari belakang. Dan akan ada orang yang aku cinta, namun dia dengan gampangnya pergi begitu saja tanpa memikirkan apa yang ku rasa.

Kesendirian itu sangat nyata dalam kehidupan di dunia tempat persinggahan ini. Tiada satu apapun di dunia ini yang berani menjamin keberadaannya akan selalu ada untukku. Mereka hanya bisa berjanji, mungkin. Tapi aku sadar, bahkan aku pun sering mengingkari janjiku untuk selalu ada. Dan terkhusus untuk itu, aku memohon maafku yang sebesar-besarnya, dengan kerendahan hati yang serendah-rendahnya, aku minta maaf kepada orang yang mungkin tersakiti dengan janjiku yang mungkin tak bisa ku penuhi itu. Namun itu membuat ku tersadar, bahwa betapa di dunia ini kesenangan itu hanya bualan, hanya sementara, tidak ada kesenangan dunia ini yang selamanya. Akan ada masanya kesenangan itu justru berbalik menusuk dan menyakiti orang yang sebelumnya dibuatnya bahagia. Bahwa tidak ada yang menjamin kita akan bahagia selamanya. Itu tidak akan pernah terjadi.

Dunia ini sangat menyakitkan. Dunia ini sangat menyengsarakan. Dunia ini sangat menyusahkan. Dunia ini penuh dengan fitnah. Dunia ini penuh dengan benci. Dunia ini penuh dengan permusuhan. Dunia ini penuh dengan caci maki. Dunia ini penuh dengan iri dengki. Dunia ini penuh dengan janji kosong. Dunia ini penuh dengan kesendirian. Tidak ada satupun yang bisa benar-benar selalu menolong kita di dunia ini. Kecuali Dia. Kecuali Allah. Ternyata benar, kita hanya memiliki Allah.

Dan ketika ku tersadar dalam kesendirian, fikiran itu seketika terlintas begitu saja di dalam benakku. Aku mulai lelah dengan fitnah dunia ini. Betapa beratnya mempertahankan keimanan di tengah berbagai macam fitnah yang ada di dunia saat ini.  Aku mulai lelah dengan semua itu. Aku lelah berada di dunia yang penuh dengan fitnah ini. Aku ingin segera kembali ke rumahku yang sebenarnya. Aku lelah di tempat persinggahan yang sangat menyakitkan ini. Aku ingin segera menuju ke kampung halamanku yang sebenarnya, yang tidak ada tujuan lain selain ke sana. Aku ingin pulang. Aku ingin betemu dengan-Mu.

Aku ingin pulang. Tapi aku sadar, bahwa bekalku untuk pulang masih sangat kurang, bahkan mungkin sangat jauh dari kata cukup untuk bisa Kau terima aku di rumah asal ayahku Adam alaihissalam. Bekal yang aku miliki sejauh ini mungkin masih sangat jauh dari cukup agar Engkau ridhoi aku untuk kembali pulang ke surga-Mu. Aku sadar itu. Aku tahu aku masih harus lebih banyak beribadah untuk-Mu. Aku masih harus lebih tunduk patuh dan takut kepada-Mu. Agar Engkau bisa meridhoiku untuk pulang ke surga-Mu. Sesungguhnya selama ini aku telah bersalah terhadap diriku sehingga jauh dari keridhoan-Mu, jika bukan karena Engkau mengampuniku, jika bukan karena rahmat dan kasih sayang-Mu, pastilah aku termasuk ke dalam orang yang rugi, yang pulang namun bukan ke tempat ayahku Adam alaihissalam berasal. Maka aku bermohon pada-Mu, bantulah aku untuk selalu beribadah kepada-Mu. Untuk selalu senantiasa berada di dalam jalan agama-Mu. Untuk selalu mengikuti apa yang Engkau dan Rasul-Mu perintahkan kepadaku. Karena sejujurnya, jika tanpa kekuatan dan petunjuk-Mu, aku sudah sangat lelah berada di dunia ini. Maka aku selalu memohon bimbingan-Mu, karena aku sangat ingin pulang. Pulang ke surga-Mu.

Kamis, 30 Juni 2016

Bulan Juni di Mandalawangi

Malam ini, kembali ku sadari bahwa kini kau telah pergi. Dalam gelap yang sunyi ini, resah hati kembali sadari jika kini ku sendiri. Kini aku telah kehilanganmu. Kau pergi meninggalkanku begitu mudahnya, menyisakan berbagai kenangan indah di saat kau masih menemaniku yang selalu menghantui hariku. Kau pergi meninggalkanku begitu cepatnya, menggoreskan kepedihan yang selalu bertambah pedih saat ia bertemu dengan air mata yang jatuh membasahi wajah ini.

Malam ini, kata hati ini ingin terpenuhi. Dalam sepi yang lirih ini, kata hati begitu ingin kau kembali ke dunia ini. Dinginnya hembusan angin gunung ini menambah jelas kekosongan hati yang dulu pernah kau isi. Akankah hembusan ini bisa membawa terbang kepedihanku sampai padamu di sana. Akankah kau pernah mengerti bagaimana perihnya luka yang dalam membekas karena kau tinggalkan ini. Pada rerumputan yang basah ku berharap akan menyampaikan semuanya padamu di sana.

Dalam kegelapan ini, aku bernyanyi lagu sepi. Di tepian lembah mandalawangi ini aku sendiri, tanpa dirimu ada di sisiku. Andai kau tahu, dalam lelap pun terus ku sebut namamu. Mengapa kau harus pergi. Mengapa kau harus meninggalkanku waktu itu.

Kembalilah sayangku, kembalilah kasih.

Minggu, 20 Maret 2016

Merelakan

Melepasmu, adalah sebuah kata yang paling ia benci. Kau mungkin tahu itu, mungkin juga tidak. Baginya, melepasmu sama saja seperti melepas setengah bagian dari kehidupannya. Baginya, melepasmu sama saja seperti bersiap menahan air mata saat menemukan hal yang berhubungan dengan kalian, saat melewati jalanan yang biasa kalian lalui besama, saat menghabiskan waktu di  tempat yang biasa kalian gunakan untuk berbagi waktu berdua. Baginya, melepasmu ada sebuah hal yang tak pernah ia harap ada dalam kisah hidupnya. Baginya, melepasmu adalah seberat itu, sesulit itu, sesakit itu, sepahit itu.

Tapi diperjalanan tadi, ia berkata padaku. Bahwa mungkin melepasmu adalah sebuah keharusan untuk menghilangkan segala rasa bersalahnya terhadap dirinya, dan terhadapmu. Hadirnya kerelaan untuk melepasmu, bukan selalu menjadi bermakna bahwa rindu itu kini telah tiada, bahwa rasa itu telah pergi untuk selamanya. Sebuah kesadaran dalam dirinya, bahwa Amor Vincit Omnia tidak harus selalu berarti kemenangan atas kedekatan dan kepemilikan. Lebih dari itu, ia menyadari bahwa frasa itu menyimpan arti lain, bahwa cinta akan menemukan jalan kebahagiaannya sendiri. Karena kebahagiaan tidak pernah dijamin oleh kepemilikan atas sesuatu.

Maka setelah perbincangan dengannya, setelah untaian kalimatnya berakhir, baginya tak ada lagi pintu yang harus diketuk. Tak ada lagi kunci yang harus dicari. Tak ada lagi rumah yang harus dibenahi. Hanya menjalani jalan yang telah digariskan untuknya, dan untukmu. Biarkan semuanya berjalan apa adanya bersama dengan doa, tanpa satupun rekayasa yang tercipta.

“Jika dia memang bagian diriku, tulang rusukku yang hilang, maka pasti suatu saat kami akan kembali bersama.” Dia berkata demikian. “Kalau ternyata bukan dia?” tanyaku. Dia tertunduk, tersenyum lirih. “Entahlah” tutupnya.

Senin, 29 Februari 2016

Kita Berbeda

Pertemuan seorang lelaki yang tak peka dan seorang perempuan yang pendiam adalah sebuah hal yang sangat rumit. Adalah sebuah pertemuan yang tidak seharusnya terjadi. Adalah pertemuan yang tak  mungkin bertahan lama. Adalah sesuatu yang tidak sehat. Adalah suatu hal yang pasti menyebalkan. Adalah mimpi buruk.

Lelaki tak peka, yang kurang punya keahlian untuk membaca situasi, yang tidak bisa mengerti arti dari sebuah keterdiaman, yang tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk tahu apa yang ada di dalam hati. Bertemu denga perempuan pendiam, yang serperti hujan jatuh begitu saja tanpa berkata apa-apa, yang tiba-tiba meneteskan air mata tanpa memberi tahu penyebabnya, yang selalu menunggu untuk dimengerti. Pertemuan lelaki dan perempuan ini adalah sebuah bencana, itu kata mereka.

Tapi tidak untuk kita. Tapi kita berbeda. Ya benar memang, kita adalah seorang lelaki tak peka dan seorang perempuan pendiam, tidak ada yang memungkiri itu. Kita mungkin adalah dua orang yang terkadang bermasalah dalam memahami satu sama lain. Kita mungkin terkadang berbeda pendapat untuk berbagai hal. Tak jarang permasalahan muncul di antara kita hanya karena aku yang tidak bisa mengeri apa maumu atau karena kamu yang tidak mau mengutarakan apa yang ada di hatimu. Tidak jarang hal-hal itu terjadi di perjalanan kita.

Maaf jika kita berbeda. Tapi kebersamaan akan tetap berpihak pada kita. Ada suatu hal yang membuat kita selalu berhasil melewati semua api yang mencoba memisahkan kita. Suatu kemauan yang tak mau terpisahkan melekat pada kita. Bukankah kita akan selalu seperti ini. Bukankah kita akan selalu kuat menghadapi apapun yang terjadi nantinya. Bukankah kita akan selalu bertahan. Aku kira jawabannya adalah ya, selama kita masih punya satu tujuan yang sama. Karena dengan tujuan yang sama, siapapun pasti akan bersama nantinya di tujuan itu.

Tidak ada yang perlu kita takutkan. Walaupun semua orang berubah. Walaupun aku adalah lelaki tak peka. Walaupun kamu perempuan pendiam. Semua itu tidak akan pernah merubah apa yang ada di antara kita. Kita akan selalu menjadi terang dan gelap, panas dan dingin. Aku ada karena kau telah tercipta. Dan kita akan selalu menjadi seperti ini. Berbeda, namun saling membutuhkan.

Selasa, 17 November 2015

Hujan, Bintang, dan Cahaya



Hujan malam ini seakan mewakili perasaannya, perasaan seorang lelaki bernama Bintang. Hujan malam ini membuat bintang di langit seakan hilang, tidak terlihat sedikit pun cahanya. Begitulah yang malam ini dirasakan oleh Bintang. Malam ini ia tidak bersama Cahaya, kekasihnya. Derasnya hujan malam ini pun berhasil mewakilkan air matanya yang bahkan tidak mampu lagi menetes keluar dari matanya. Air matanya malam ini jatuh ke dalam, jatuh tepat di hati, dan menimbulkan pedih yang tak terkatakan dan tak seorang pun yang dapat melihat kepedihan itu. Pedih yang membuat Bintang tak kuasa melawan penyakit lama yang dideritanya.

Apa yang terjadi dengan Bintang dan Cahaya. Entahlah, tak seorang pun yang tahu. Hanya mereka berdua yang tahu. Bintang tahu, semua ini pasti akan terjadi. Akan ada waktu dimana perjalanannya bersama cahaya tak selalu mulus dan bahagia. Akan ada waktu dimana mereka akan menghadapi masalah-masalah seperit ini dalam perjalanan mereka. Perjalanan mereka menuju suatu kehidupan yang lebih bahagia nantinya. Tapi malam ini Bintang begitu lemah, ia bahkan tak mampu menahan air matanya yang tak lagi mau jatuh keluar.

Tak sengaja Bintang membuka memori dan ingatan lama bersama yang tercinta, Cahaya. Sebuah album, yang hanya  berisikan gambar mereka berdua. Gambar yang tak mampu bersuara, namun sanggup berbicara kepada Bintang tentang bagaimana bahagianya semua yang dulu telah ia lakukan bersama Cahaya. Semua itu membuat kenangan masa lalu Bintang terbuka seketika. Bagaimana bahagianya mereka saat berjalan bersama di sebuah padang rumput yang luas, berlarian berdua, menghabiskan waktu hanya untuk mereka. Bagaimana susahnya menahan rindu yang tertanam akibat jarak jauh yang ada di antara mereka, dan bagaimana bahagianya mereka saat kembali bertemu. Bagaimana bahagianya saat mereka menghabiskan waktu berbagi kegembiraan dan cerita hanya berdua, mengabaikan semua yang ada selain mereka. Seakan-akan di dunia ini hanya ada mereka berdua,Bintang dan Cahaya.

Tapi malam ini semua itu hanya ada di dalam ingatan Bintang, entah dengan Cahaya. Yang pasti Bintang terhanyut oleh kesedihannya semakin dalam akibat semua kenangan itu. Satu hal yang ada di fikiran Bintang malam ini. Cahaya, ya, hanya Cahaya. Yang ia dapatkan dari semua kenangan itu adalah bahwa dari dulu ia telah mencintai Cahaya. Bahwa ia mencintaimu, dan akan selalu seperti itu. Semoga kalian selalu bersama hingga akhir waktu.