'manusia boleh berniat, tapi tidak bisa memastikan apa yang akan benar-benar terjadi'
mungkin kalimat itu yang gue alamin malam ini. niatnya sih tadi buka laptop buat blogwalking bentar doang. tapi kenyataannya, nagih dan terus berlanjut ampe nulis ini malah. tapi gapapalah, mahasiswa tingkat dua kan pagi gabut, jadi tunda tidur bentar demi menghasilkan sesuatu gak masalah lah, tetap produktif (mungkin) hitungannya, waktunya gak terbuang percuma dan sia-sia.
ngomongin mahasiswa tingkat dua nih, emang sih kita (apa cuma jurusan gue) masuknya siang mulu, paling pagi jam 11, itupun cuma hari kamis. jadi pagi bisa nyantai, selo, ongkang-ongkang kaki, tidur lagi, gabutlah pokoknya. tapi ada satu masalah yang ternyata sangat menyita waktu kita, para mahasiswa tingkat dua. apa itu? PRAKTIKUM!
ya, praktikum. mahasiswa tingkat dua juga ketemu sama yang namanya praktikum (ya iyalah). tapi masalahnya, beda sama mahasiswa tingkat pertama yang laporannya harus langsung dikumpulin waktu praktikum, kalau praktikum mahasiswa tingkat dua laporannya kumpulinnya dua hari setelah praktikum! enak gak tuh?! enak paledut! ya emang sih ngerjain laporannya dikasih waktu dua hari, tapi tetep aja waktu itu kurang! gimana engga, laporannya bisa sampe 15 halaman gitu, gue aja bingung gimana cara nyeleseinnya. tapi alhamdulillah yang pertama kemaren selese juga sih, tapi ampe harus begadang semaleman buat nyeleseinnya. dahsyat parahlah laporannya. mana tiap minggu pasti ada praktikum lagi, heuh banget lah.
tapi gue bersyukur sih, seminggu cuma sekali praktikum, gimana anak-anak jurusan yang seminggu bisa ampe tiga atau empat kali praktikum ya, tiap hari praktikum, jangan-jangan kerjaan mereka praktikum doang kali ya. kapan bikin laporannya dah itu, ckckck. derita udah masuk jurusan gini nih, dahsyat parah! mana pelajarannya abstrak semua lagi hahaha. yaudahlah mau gimana lagi tapinya, nikmatin ajalah, mahasiswa tingkat dua, berarti kan insyaallah dua tahun lagi wisuda, aammiin
Rabu, 11 September 2013
#Repost : Sebuah Orasi; Kulihat Kalian, Manusia Pahlawan
yak, jadi kalo yang udah baca post penulis yang ini, insyaallah bakal tahu kalau beberapa hari yang lalu IAIC region Bandung mengadakan penyambutan buat mahasiswa baru alumni yang berasal dari MAN Insan Cendekia Serpong. jadi ceritanya di detik-detik sebelum mereka dilantik, ketua IAIC Bandung tahun ini, Dimas Jalaludin, ngasih orasi, di atas batu besar, di bawah derasnya air terjun, di hadapan puluhan mahasiswa IAIC, yang berasal dari penjuru dunia (ada yang dari Jepang dua orang). orasi yang disampaikannya, menurut penulis, bagus parah. makanya sekarang penulis repost dikit lah, buat yang ga ikutan penyambutan, gasempet denger langsung orangnya orasi, bisa tahu pesan yang disampaikan lewat orasinya itu. sila dibaca
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat Kalian, Manusia Pahlawan
Derasnya air, kudengarkan suara derasnya air
Semilir angin, kurasakan sepoi semilirnya angin
Rimbunnya pepohonan,hangatnya matahari
Dan langit, tiada ditemani mega saat itu
Dihadapanku, anak-anak pertiwi, diam memandang
Padaku, menunggu
Kuhela nafas, Kubalas tatapan mereka satu satu,
Kudatangkan nyawaku, kuhimpun nafasku, kuhadirkan suaraku
Kucari, dimana mata hati yang masih kuajak berbicara
Wahai kalian, kalian yang merasa dirinya insan-insan pilihan
Wahai kalian, kalian yang merasa dirinya manusia-manusia pujaan
Wahai kalian, kalian yang merasa dirinya sosok-sosok impian
Biarkan ku mulai dengan satu pertanyaan
Dengan berbagai sematan atribut penghargaan yang kau peroleh dari kehidupan
Apakah lantas kalian merasa cukup dengan meninggikan diri dan membanggakan
Mari, kita mulai dari satu alasan
Ooo, lihatlah dirimu, siapa dirimu
Kau, yang memiliki, apa yang tak banyak orang dapat miliki
Kau, yang diberi, apa yang tak banyak orang berkesempatan tuk diberi
Kau, yang dianugrahi, apa yang tak banyak orang beruntung tuk menikmati
Namun, ingatlah kawan, bukan cuma penghargaan
Dari setiap celah peluang, pastilah juga ada tuntutan
Dari setiap kesempatan, pastilah juga ada permintaan
Dari setiap peruntungan, pastilah juga ada pertanggungjawaban
Dari sanalah, kau bisa lihat sendiri, sejauh mana kau telah menjadi
manusia sejati yang tahu diri
Merdeka katanya, merdeka tampaknya
Merdeka bangsa ini katanya, merdeka diri ini katamu
Tapi merdeka, kawan, bukan hanya sekedar teriakan
Dan lantas kau pandang seluruhnya kenikmatan
Tapi merdeka adalah sepenuhnya titipan
Mereka telah sediakan tanahnya, sediakan benihnya
Adalah amanat untuk kemudian kau tumbuhkan
Dengarlah, Chairil Anwar, darinya untaian kata persembahan
Menyampaikan suara hati, dari mereka mereka yang tertidur sepi
Menyampaikan pesan mendalam, telah lama tersimpan sunyi
Terpendam bersama tanah, dan juga genangan darah
para pahlawan yang telah mati
Kami sudah coba apayang kami bisa
Tapi kerja kami belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri, kamipunya jiwa
Kerja belum selesai,belum bisa memperhitungkan
Arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Tentang manusia, ku ingin bercerita
Waktu tlah sedikit banyak mengajarkan, pada anak-anaknya
Bahwa sejarah, bahwa masa, bahwa detak kehidupan
Hanya mau menatap, hanya sudi menerima
mencatat nama mereka, para manusia sejati
Manusia sejati, bukan mereka yang menyembah keinginan diri
Manusia sejati, bukan mereka yang mengedepankan ego dan ketinggian hati
Manusia sejati, bukan mereka yang memenuhi kepala, dada, dan kepalan tangan
dengan mimpi-mimpi pribadi yang mereka miliki
Tapi manusia sejati
Adalah mereka yang sadar akan asa dan bakti,
Senantiasa menyalakan, mengobarkan, miliknya semangat api
Berkata-kata dalam dada sendiri
Pastilah terus ada yang dapat mereka lakukan lagi
mereka adalah yang mengubah, membangun, bekerja memperbaiki
Menyibukan diri pada hasrat, asa, mimpi bersama
Tuk ikut serta, tiada tertinggal, dalam wewangian parade sejarah
Bersama mereka, mereka, dan mereka
Para pahlawan, para manusia sejati yang lain
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela berdarah-darah untuk mengubah
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela dipaksa untuk terpenjara
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela dihujami oleh vonis tirani
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela berhadapan dengan pedihnya pengorbanan
Demi sepenuhnya memperjuangkan, bukan untuk dirinya
Tapi demi rakyatnya, demi bangsanya, demi semesta manusia
Mengantarkan mereka semua, semua, semuanya
pada puncak tertinggi, impian akan sepenuhnya merdeka
pada puncak tertinggi, impian akan sepenuhnya jaya
Wahai insan-insan penerima anugerah
Wahai insan-insan yang dititipkan kelebihan
Jangan kau biarkan dirimu sendiri
Tenggelam dalam bayangan asap yang tiada mampu terbang tinggi
Terlalaikan, tergadaikan, terabaikan
Berserakan dengan fatamorgana kebanggaan
Dibiarkan terlupa, hilang oleh masa
Tapi mulailah,
Canangkanlah, tepat pada nadimu, tepat pada jantungmu
Sebarkanlah pada lingkaran euforia sekelilingmu
Dengan apa yang kau pegang, apa yang kau punya
Beratus bila sanggup, beribu bila perlu, berjuta bila mampu
Mata air kebermanfaatan, mata air pengabdian, air mata perjuangan
Buktikanlah, walau sedikit nampak sedikit
Buktikanlah, cermin jiwa mana yang memaksa dirimu menjadi dewasa
Berkembang, bertumbuh
Menjadi sosok insan pejuang perbaikan, cendekiawan
Menjadi sejati-jatinya manusia, pembawa panji kiriman Tuhan
Salah satu dari pahlawan
yang bangsa ini telah lama idam-idamkam
Kukepalkan tanganku, kuangkat, kupersembahkan
Kuajak mereka bertakbir, sekali
Dua kali
Tiga kali
Dalam pikiran, 8 September
Dalam catatan, 9 September
Setelah 68 tahun, sang saka berkelebatan,
merindukan kembalinya iring-iringan pahlawan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sumber: disadur dari notes ini
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kulihat Kalian, Manusia Pahlawan
Derasnya air, kudengarkan suara derasnya air
Semilir angin, kurasakan sepoi semilirnya angin
Rimbunnya pepohonan,hangatnya matahari
Dan langit, tiada ditemani mega saat itu
Dihadapanku, anak-anak pertiwi, diam memandang
Padaku, menunggu
Kuhela nafas, Kubalas tatapan mereka satu satu,
Kudatangkan nyawaku, kuhimpun nafasku, kuhadirkan suaraku
Kucari, dimana mata hati yang masih kuajak berbicara
Wahai kalian, kalian yang merasa dirinya insan-insan pilihan
Wahai kalian, kalian yang merasa dirinya manusia-manusia pujaan
Wahai kalian, kalian yang merasa dirinya sosok-sosok impian
Biarkan ku mulai dengan satu pertanyaan
Dengan berbagai sematan atribut penghargaan yang kau peroleh dari kehidupan
Apakah lantas kalian merasa cukup dengan meninggikan diri dan membanggakan
Mari, kita mulai dari satu alasan
Ooo, lihatlah dirimu, siapa dirimu
Kau, yang memiliki, apa yang tak banyak orang dapat miliki
Kau, yang diberi, apa yang tak banyak orang berkesempatan tuk diberi
Kau, yang dianugrahi, apa yang tak banyak orang beruntung tuk menikmati
Namun, ingatlah kawan, bukan cuma penghargaan
Dari setiap celah peluang, pastilah juga ada tuntutan
Dari setiap kesempatan, pastilah juga ada permintaan
Dari setiap peruntungan, pastilah juga ada pertanggungjawaban
Dari sanalah, kau bisa lihat sendiri, sejauh mana kau telah menjadi
manusia sejati yang tahu diri
Merdeka katanya, merdeka tampaknya
Merdeka bangsa ini katanya, merdeka diri ini katamu
Tapi merdeka, kawan, bukan hanya sekedar teriakan
Dan lantas kau pandang seluruhnya kenikmatan
Tapi merdeka adalah sepenuhnya titipan
Mereka telah sediakan tanahnya, sediakan benihnya
Adalah amanat untuk kemudian kau tumbuhkan
Dengarlah, Chairil Anwar, darinya untaian kata persembahan
Menyampaikan suara hati, dari mereka mereka yang tertidur sepi
Menyampaikan pesan mendalam, telah lama tersimpan sunyi
Terpendam bersama tanah, dan juga genangan darah
para pahlawan yang telah mati
Kami sudah coba apayang kami bisa
Tapi kerja kami belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri, kamipunya jiwa
Kerja belum selesai,belum bisa memperhitungkan
Arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Tentang manusia, ku ingin bercerita
Waktu tlah sedikit banyak mengajarkan, pada anak-anaknya
Bahwa sejarah, bahwa masa, bahwa detak kehidupan
Hanya mau menatap, hanya sudi menerima
mencatat nama mereka, para manusia sejati
Manusia sejati, bukan mereka yang menyembah keinginan diri
Manusia sejati, bukan mereka yang mengedepankan ego dan ketinggian hati
Manusia sejati, bukan mereka yang memenuhi kepala, dada, dan kepalan tangan
dengan mimpi-mimpi pribadi yang mereka miliki
Tapi manusia sejati
Adalah mereka yang sadar akan asa dan bakti,
Senantiasa menyalakan, mengobarkan, miliknya semangat api
Berkata-kata dalam dada sendiri
Pastilah terus ada yang dapat mereka lakukan lagi
mereka adalah yang mengubah, membangun, bekerja memperbaiki
Menyibukan diri pada hasrat, asa, mimpi bersama
Tuk ikut serta, tiada tertinggal, dalam wewangian parade sejarah
Bersama mereka, mereka, dan mereka
Para pahlawan, para manusia sejati yang lain
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela berdarah-darah untuk mengubah
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela dipaksa untuk terpenjara
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela dihujami oleh vonis tirani
Ooo, ku ingin bersama mereka
Yang bahkan rela berhadapan dengan pedihnya pengorbanan
Demi sepenuhnya memperjuangkan, bukan untuk dirinya
Tapi demi rakyatnya, demi bangsanya, demi semesta manusia
Mengantarkan mereka semua, semua, semuanya
pada puncak tertinggi, impian akan sepenuhnya merdeka
pada puncak tertinggi, impian akan sepenuhnya jaya
Wahai insan-insan penerima anugerah
Wahai insan-insan yang dititipkan kelebihan
Jangan kau biarkan dirimu sendiri
Tenggelam dalam bayangan asap yang tiada mampu terbang tinggi
Terlalaikan, tergadaikan, terabaikan
Berserakan dengan fatamorgana kebanggaan
Dibiarkan terlupa, hilang oleh masa
Tapi mulailah,
Canangkanlah, tepat pada nadimu, tepat pada jantungmu
Sebarkanlah pada lingkaran euforia sekelilingmu
Dengan apa yang kau pegang, apa yang kau punya
Beratus bila sanggup, beribu bila perlu, berjuta bila mampu
Mata air kebermanfaatan, mata air pengabdian, air mata perjuangan
Buktikanlah, walau sedikit nampak sedikit
Buktikanlah, cermin jiwa mana yang memaksa dirimu menjadi dewasa
Berkembang, bertumbuh
Menjadi sosok insan pejuang perbaikan, cendekiawan
Menjadi sejati-jatinya manusia, pembawa panji kiriman Tuhan
Salah satu dari pahlawan
yang bangsa ini telah lama idam-idamkam
Kukepalkan tanganku, kuangkat, kupersembahkan
Kuajak mereka bertakbir, sekali
Dua kali
Tiga kali
Dalam pikiran, 8 September
Dalam catatan, 9 September
Setelah 68 tahun, sang saka berkelebatan,
merindukan kembalinya iring-iringan pahlawan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sumber: disadur dari notes ini
Selasa, 10 September 2013
Kado Ulang Tahun Untuk Gradiator
Gicen ulang tahun? haha, jujur gue lupa. parah, ya emang sih. gue emang bukan orang yang bisa nginget tanggal. gue baru inget kalau gicen ulang tahun waktu buka blog, terus ada postingan dari mba peter yang ini. ternyata, di ulang tahun gicen yang ke empat ini, yang diperdebatkan juga di facebook apakah gicen cocoknya masuk PAUD, TK, atau SD, ketua roadshow minta kita, anak gicen, bikin tulisan tentang gicen buat ngerayain ulang tahun gicen ini. yaudah, biar ga terlalu parah gue ikutan memeriahkan ulang tahun gicen itu dengan nulis ini. btw, ini tulisan ke dua yang dibikin khusus buat yang ulang tahun. anggap aja lah ini kado dari gue buat gicentium credas disorator, angkatan 15 Insan Cendekia.
kalau sesuai format penulisan, seharusnya ini tulisan berisi bayangan gue tentang gicen 15 tahun yang akan datang, yang kalau kata hamzah, 15 tahun dari sekarang itu kita berumur 34 tahun, usia dimana kita, idealnya, mencapai pucak kesuksesan karir kita. tapi, gue sebenernya bingung, arti 'sukses' itu apa sih? apakah sukses itu kalau kita jadi pegawai teladan di perusahan multinasional atau perusahaan oil and gas, yang bergaji luar biasa besar sampe bisa ngebanjirin jakarta dengan kerupuk yang dibeli pake sepertiga gaji biar jakarta ga banjir karna air lagi? atau sukses itu kita jadi CEO, pemimpin suatu perusahaan yang walaupun gajinya kalah jauh dibanding yang pertama gue sebutin tai tapi kita bisa memerintah orang, bukan diperintah? atau sukses itu kita punya perusahaan sendiri jadi kita bebas melakukan apapun, ga terikat dengan apapun? atau sukses itu jadi investor yang tinggal ongkang-ongkang kaki nunggu persenan dari keuntungan investasi kita? atau sukses itu bisa dapet duit dari hasil ngelakuin sesuatu yang memang hobi kita jadi kita ga pusing-pusing buat dapet duitnya? atau sukses itu adalah orang yang kita harapkan jadi pendamping hidup kita benar-benar adalah tulang rusuk kita dan menjadi orang tua dari anak-anak kita nanti? sukses itu sebenarnya apa sih? cuma satu jawab yang terlintas difikran gue. entahlah.
jujur, gue juga bingung sih kalo ditanya ngebayangin anak gicen sukses nanti itu kaya apa. yang jelas gue berharap dan berdoa, semua anak gicen nanti bisa bahagia dan gembira dengan apapun yang terjadi pada hidup dan dirinya 15 tahun yang akan datang. gue pengen, anak gicen bisa bermanfaat buat semua orang sekitarnya, minimal buat saudara-saudara terdekatnya lah, buat tetangga-tetangganya. maksimal ya bisa jadi penggebrak perubahan dunia atau apalah, yang penting membawa manfaat buat manusia lainnya. gue ngebayangin 15 tahun lagi, kita bisa bahagia dengan semua keputusan yang kita ambil diperjalanan menuju kesuksesan yang kita pilih, apapun jenis kesuksesan itu. walaupun 'cuma' jadi ibu rumah tangga, atau 'cuma' jadi ketua RT, kita bisa selalu tersenyum dan membuat orang lain tersenyum dengan semua perbuatan dan perkataan kita. tebarlah selalu manfaat di bumi Allah ini, gicen, sahabatku. 15 tahun lagi, insyaallah, kita adalah orang-orang hebat yang penuh senyuman, yang sukses memaknai setiap detik kehidupan kita, karena sukses tiap orang berbeda, tergantung kita memaknai apa itu sukses. jadi, salam sukses buat gicen yang baru ulang tahun ke empat! gue tunggu cerita sukses versi kalian 15 tahun dari sekarang, yang bukan cuma sekadar angan dan bayang seperti yang kita lakukan sekarang. gue yakin dan percaya, lo bakal jadi orang sukses dengan apapun pilihan lo nantinya.
ya, mungkin cuma seuntai doa dan harapan yang bisa gue kasih sebagai bentuk kado dari gue buat lo semua, sahabat gue, Gradiator, yang sangat super. semoga suatu saat nanti, kita bisa ngerayain milad gicen ini bareng, satu angkatan, entah itu di dunia, ataupun di surga. (atau kalau ada yang mau ngerayain bareng gue doang, juga boleh, hahaha)
kalau sesuai format penulisan, seharusnya ini tulisan berisi bayangan gue tentang gicen 15 tahun yang akan datang, yang kalau kata hamzah, 15 tahun dari sekarang itu kita berumur 34 tahun, usia dimana kita, idealnya, mencapai pucak kesuksesan karir kita. tapi, gue sebenernya bingung, arti 'sukses' itu apa sih? apakah sukses itu kalau kita jadi pegawai teladan di perusahan multinasional atau perusahaan oil and gas, yang bergaji luar biasa besar sampe bisa ngebanjirin jakarta dengan kerupuk yang dibeli pake sepertiga gaji biar jakarta ga banjir karna air lagi? atau sukses itu kita jadi CEO, pemimpin suatu perusahaan yang walaupun gajinya kalah jauh dibanding yang pertama gue sebutin tai tapi kita bisa memerintah orang, bukan diperintah? atau sukses itu kita punya perusahaan sendiri jadi kita bebas melakukan apapun, ga terikat dengan apapun? atau sukses itu jadi investor yang tinggal ongkang-ongkang kaki nunggu persenan dari keuntungan investasi kita? atau sukses itu bisa dapet duit dari hasil ngelakuin sesuatu yang memang hobi kita jadi kita ga pusing-pusing buat dapet duitnya? atau sukses itu adalah orang yang kita harapkan jadi pendamping hidup kita benar-benar adalah tulang rusuk kita dan menjadi orang tua dari anak-anak kita nanti? sukses itu sebenarnya apa sih? cuma satu jawab yang terlintas difikran gue. entahlah.
jujur, gue juga bingung sih kalo ditanya ngebayangin anak gicen sukses nanti itu kaya apa. yang jelas gue berharap dan berdoa, semua anak gicen nanti bisa bahagia dan gembira dengan apapun yang terjadi pada hidup dan dirinya 15 tahun yang akan datang. gue pengen, anak gicen bisa bermanfaat buat semua orang sekitarnya, minimal buat saudara-saudara terdekatnya lah, buat tetangga-tetangganya. maksimal ya bisa jadi penggebrak perubahan dunia atau apalah, yang penting membawa manfaat buat manusia lainnya. gue ngebayangin 15 tahun lagi, kita bisa bahagia dengan semua keputusan yang kita ambil diperjalanan menuju kesuksesan yang kita pilih, apapun jenis kesuksesan itu. walaupun 'cuma' jadi ibu rumah tangga, atau 'cuma' jadi ketua RT, kita bisa selalu tersenyum dan membuat orang lain tersenyum dengan semua perbuatan dan perkataan kita. tebarlah selalu manfaat di bumi Allah ini, gicen, sahabatku. 15 tahun lagi, insyaallah, kita adalah orang-orang hebat yang penuh senyuman, yang sukses memaknai setiap detik kehidupan kita, karena sukses tiap orang berbeda, tergantung kita memaknai apa itu sukses. jadi, salam sukses buat gicen yang baru ulang tahun ke empat! gue tunggu cerita sukses versi kalian 15 tahun dari sekarang, yang bukan cuma sekadar angan dan bayang seperti yang kita lakukan sekarang. gue yakin dan percaya, lo bakal jadi orang sukses dengan apapun pilihan lo nantinya.
ya, mungkin cuma seuntai doa dan harapan yang bisa gue kasih sebagai bentuk kado dari gue buat lo semua, sahabat gue, Gradiator, yang sangat super. semoga suatu saat nanti, kita bisa ngerayain milad gicen ini bareng, satu angkatan, entah itu di dunia, ataupun di surga. (atau kalau ada yang mau ngerayain bareng gue doang, juga boleh, hahaha)
"idul milad,
GYCENTIUM CREDAS DISORATOR
never broken always unit, 'cause we're the best no matter what"
Langganan:
Postingan (Atom)
