Rabu, 20 Juli 2016

Aku Ingin Pulang

Dunia, adalah suatu tempat yang penuh dengar berbagai macam kenikmatan, berbagai macam hal indah, berbagai macam kesenangan. Dunia ini penuh dengan kelezatan dan kenyamanan yang ditawarkannya untuk semua orang yang hidup di dalamnya. Sangat banyak yang ditawarkan oleh dunia, yang jika kita nikmati itu hati kita akan terasa sangat senang, sangat nyaman, sangat damai. Betapa banyaknya keindahan dan kenikmatan dunia yang bisa kita ambil dan kita raih selama kita masih hidup di dunia ini. Sangat banyak sekali yang ditawarkan oleh dunia. Tinggal bagaimana kita bisa meraihnya, tinggal bagaimana kita bisa mendapatkannya, tinggal bagaimana kita bisa menikmatinya, seluruh kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia.

Kini umurku di dunia ini telah hampir menginjak dua puluh tiga tahun. Aku sudah hidup di dunia ini selama hampir dua puluh tiga tahun. Hampir seluruh masa itu aku habiskan untuk menikmati kenikmatan yang ada di dunia ini, tanpa sedikitpun berfikir keras bagaimana cara untuk mendapatkannya. Seakan-akan kenikmatan itu datang begitu saja kepadaku. Tak pernah terfikir olehku, bahwa sesungguhnya bukan ini  yang seharusnya ku kejar. Bukan ini yang seharusnya ku tuju. Bukan ini yang seharusnya tempat di mana aku merasa nyaman. Bukan tempat ini yang seharusnya membuatku merasa betah. Bukan. Dunia bukanlah rumahku.

Adalah kesendirianku yang menyadarkan bahwa dunia ini tak lebih hanyalah sebuah tempat persinggahan bagiku. sebelum aku kembali pulang ke rumahku yang sebenarnya nanti. Kesendirianlah yang menyadarkanku, bahwa memang dunia bukanlah tempatku. Bahwa dunia bukanlah rumahku. Kesenidirian itu datang ketika aku tersadar bahwa nanti di kehidupanku yang akan datang di dunia ini, aku akan berjuang sendiri untuk apa yang aku inginkan, tanpa ada satu orang pun yang mau menemani jalanku untuk mencapai tujuanku tersebut. Bahkan di kesendirian jalan menuju tujuan tersebut, pasti ada orang yang tidak senang terhadapku. Akan ada orang yang suka mengejekku. Akan ada orang yang senang melihatku terjatuh. Akan ada orang yang menertawakanku. Akan ada orang yang ku percaya, namun dia mengkhianati kepercayaanku padanya. Akan ada orang yang ku beri kebaikan, namun dia bebalik menjelekkanku dari belakang. Dan akan ada orang yang aku cinta, namun dia dengan gampangnya pergi begitu saja tanpa memikirkan apa yang ku rasa.

Kesendirian itu sangat nyata dalam kehidupan di dunia tempat persinggahan ini. Tiada satu apapun di dunia ini yang berani menjamin keberadaannya akan selalu ada untukku. Mereka hanya bisa berjanji, mungkin. Tapi aku sadar, bahkan aku pun sering mengingkari janjiku untuk selalu ada. Dan terkhusus untuk itu, aku memohon maafku yang sebesar-besarnya, dengan kerendahan hati yang serendah-rendahnya, aku minta maaf kepada orang yang mungkin tersakiti dengan janjiku yang mungkin tak bisa ku penuhi itu. Namun itu membuat ku tersadar, bahwa betapa di dunia ini kesenangan itu hanya bualan, hanya sementara, tidak ada kesenangan dunia ini yang selamanya. Akan ada masanya kesenangan itu justru berbalik menusuk dan menyakiti orang yang sebelumnya dibuatnya bahagia. Bahwa tidak ada yang menjamin kita akan bahagia selamanya. Itu tidak akan pernah terjadi.

Dunia ini sangat menyakitkan. Dunia ini sangat menyengsarakan. Dunia ini sangat menyusahkan. Dunia ini penuh dengan fitnah. Dunia ini penuh dengan benci. Dunia ini penuh dengan permusuhan. Dunia ini penuh dengan caci maki. Dunia ini penuh dengan iri dengki. Dunia ini penuh dengan janji kosong. Dunia ini penuh dengan kesendirian. Tidak ada satupun yang bisa benar-benar selalu menolong kita di dunia ini. Kecuali Dia. Kecuali Allah. Ternyata benar, kita hanya memiliki Allah.

Dan ketika ku tersadar dalam kesendirian, fikiran itu seketika terlintas begitu saja di dalam benakku. Aku mulai lelah dengan fitnah dunia ini. Betapa beratnya mempertahankan keimanan di tengah berbagai macam fitnah yang ada di dunia saat ini.  Aku mulai lelah dengan semua itu. Aku lelah berada di dunia yang penuh dengan fitnah ini. Aku ingin segera kembali ke rumahku yang sebenarnya. Aku lelah di tempat persinggahan yang sangat menyakitkan ini. Aku ingin segera menuju ke kampung halamanku yang sebenarnya, yang tidak ada tujuan lain selain ke sana. Aku ingin pulang. Aku ingin betemu dengan-Mu.

Aku ingin pulang. Tapi aku sadar, bahwa bekalku untuk pulang masih sangat kurang, bahkan mungkin sangat jauh dari kata cukup untuk bisa Kau terima aku di rumah asal ayahku Adam alaihissalam. Bekal yang aku miliki sejauh ini mungkin masih sangat jauh dari cukup agar Engkau ridhoi aku untuk kembali pulang ke surga-Mu. Aku sadar itu. Aku tahu aku masih harus lebih banyak beribadah untuk-Mu. Aku masih harus lebih tunduk patuh dan takut kepada-Mu. Agar Engkau bisa meridhoiku untuk pulang ke surga-Mu. Sesungguhnya selama ini aku telah bersalah terhadap diriku sehingga jauh dari keridhoan-Mu, jika bukan karena Engkau mengampuniku, jika bukan karena rahmat dan kasih sayang-Mu, pastilah aku termasuk ke dalam orang yang rugi, yang pulang namun bukan ke tempat ayahku Adam alaihissalam berasal. Maka aku bermohon pada-Mu, bantulah aku untuk selalu beribadah kepada-Mu. Untuk selalu senantiasa berada di dalam jalan agama-Mu. Untuk selalu mengikuti apa yang Engkau dan Rasul-Mu perintahkan kepadaku. Karena sejujurnya, jika tanpa kekuatan dan petunjuk-Mu, aku sudah sangat lelah berada di dunia ini. Maka aku selalu memohon bimbingan-Mu, karena aku sangat ingin pulang. Pulang ke surga-Mu.

Jumat, 15 Juli 2016

Pria dan Domba

Pada zaman dahulu, diceritakan pada suat hari terdapat seorang pria yang sedang singgah di suatu kota untuk berdagang. Di kota tersebut, pria ini tidak sengaja melewati suatu lembah yang luas. Pria ini pun melihat ke arah lembah tersebut. Ketika ia melihat ke lembah tersebut, betapa terkagumnya pria ini ketika ia melihat di lembah tersebut ternyata dipenuhi oleh begitu banyak domba yang sehat, gemuk, berbulu tebal, dan sangat aktif bergerak. Semuanya memperlihatkan betapa domba-domba di lembah tersebut adalah domba dengan kualitas yang sangat baik, sangat luar biasa. Pria ini berdecak kagum dan terus memandangi domba-domba di lembah tersebut selama beberapa saat. Dari tatapannya, terlihat bahwa pria ini ingin memiliki domba yang seperti domba-domba di lembah tersebut. Pasti sangat banyak manfaat yang bisa diambil dari domba tersebut, fikirnya. Harganya pasti sangat mahal, dagingnya banyak, bulunya tebal, bahkan mungkin tulangnya bisa dijadikan suatu peralatan tertentu. Pasti harganya sangat mahal.

Ketika pria itu sedang asik melihat kagum kepada domba-domba di lembah tersebut, datanglah seorang pria gagah berbadan tegap kepadanya. Pria gagah ini berkata kepadanya, "apakah kau sedang melihat domba-domba di lembah itu?". Pria itu pun menjawab, "benar, aku sedang melihat domba-domba di lebah itu. Sungguh beruntunglah pemilik domba-domba tersebut." Lalu pria gagah itu menanggapinya, "aku lah pemilik domba-domba itu, jika kamu menginginkannya ambillah. Bawalah semua domba-domba itu pulang bersamamu, domba itu jadi milikmu semua jika kau mau." Pria ini tentu terkejut, bagaimana bisa ada orang yang bisa memberikan harta kekayaannya kepada orang yang baru ditemuinya kali ini, yang bahkan tidak diketahuinya asal-usulnya, tanpa disisakan sedikitpun untuknya. Pria ini pun menerima domba-domba tersebut sebagai pemberian dari pria gagah tadi.

Sambil membawa domba-domba tersebut pulang, pria ini berfikir akibat kekagumannya pada pria gagah yang baru saja memberikan seluruh domba yang dimilikinya. Pria gagah tadi pastilah seorang yang sangat kaya raya, yang memiliki begitu banyak harta berlebih, sehingga bisa dengan mudahnya begitu saja memberikan seluruh dombanya kepada orang yang baru ditemuinya, tanpa disisakan satu ekor pun untuknya. Maka pria ini pun bertanya kepada penduduk kota tersebut tentang siapa sebenarnya pria gagah itu.

Pria itu pun menemui seseorang yang ditemuinya, "hai saudara, siapakah pemilik domba-domba yang ada di lembah itu?". Orang itu malah bertanya balik kepadanya, "kau pendatang ya? Apakah pemilik domba-domba di lembah itu memberikan dombanya kepadamu?". Pria ini tentu saja heran, bagaimana orang ini bisa tau. "Benar aku adalah pendatang dan benar pemilik domba-domba itu memberikan dombanya kepadaku, bahkan seluruh dombanya tanpa menyisakan satu domba pun untuknya. Siapa sesungguhnya gerangan pria tersebut? Pastilah dia orang yang sangat kaya raya di kota ini, apa pekerjaannya?" Pria itu menjawab dan kembali bertanya kepada orang tersebut. Betapa terkejutnya pria ini mendengar reaksi dari orang yang ditanyanya. Orang itu menjawab, sambil tersenyum lebar, "ketahuilah hai pendatang, orang yang telah memberi seluruh domba yang sangat mahal miliknya tanpa tersisa kepadamu, sesungguhnya dia bukanlah orang yang kayahartanya. Tapi dia adalah orang yang paling kaya akhlaqnya, paling kaya kebaikannya. Dia adalah nabi Allah, beliaulah Rasulullah, Muhammad shollallahu alaihi wa sallam." 

Kamis, 30 Juni 2016

Bulan Juni di Mandalawangi

Malam ini, kembali ku sadari bahwa kini kau telah pergi. Dalam gelap yang sunyi ini, resah hati kembali sadari jika kini ku sendiri. Kini aku telah kehilanganmu. Kau pergi meninggalkanku begitu mudahnya, menyisakan berbagai kenangan indah di saat kau masih menemaniku yang selalu menghantui hariku. Kau pergi meninggalkanku begitu cepatnya, menggoreskan kepedihan yang selalu bertambah pedih saat ia bertemu dengan air mata yang jatuh membasahi wajah ini.

Malam ini, kata hati ini ingin terpenuhi. Dalam sepi yang lirih ini, kata hati begitu ingin kau kembali ke dunia ini. Dinginnya hembusan angin gunung ini menambah jelas kekosongan hati yang dulu pernah kau isi. Akankah hembusan ini bisa membawa terbang kepedihanku sampai padamu di sana. Akankah kau pernah mengerti bagaimana perihnya luka yang dalam membekas karena kau tinggalkan ini. Pada rerumputan yang basah ku berharap akan menyampaikan semuanya padamu di sana.

Dalam kegelapan ini, aku bernyanyi lagu sepi. Di tepian lembah mandalawangi ini aku sendiri, tanpa dirimu ada di sisiku. Andai kau tahu, dalam lelap pun terus ku sebut namamu. Mengapa kau harus pergi. Mengapa kau harus meninggalkanku waktu itu.

Kembalilah sayangku, kembalilah kasih.