Malam ini, kembali ku sadari bahwa kini kau telah pergi. Dalam gelap yang sunyi ini, resah hati kembali sadari jika kini ku sendiri. Kini aku telah kehilanganmu. Kau pergi meninggalkanku begitu mudahnya, menyisakan berbagai kenangan indah di saat kau masih menemaniku yang selalu menghantui hariku. Kau pergi meninggalkanku begitu cepatnya, menggoreskan kepedihan yang selalu bertambah pedih saat ia bertemu dengan air mata yang jatuh membasahi wajah ini.
Malam ini, kata hati ini ingin terpenuhi. Dalam sepi yang lirih ini, kata hati begitu ingin kau kembali ke dunia ini. Dinginnya hembusan angin gunung ini menambah jelas kekosongan hati yang dulu pernah kau isi. Akankah hembusan ini bisa membawa terbang kepedihanku sampai padamu di sana. Akankah kau pernah mengerti bagaimana perihnya luka yang dalam membekas karena kau tinggalkan ini. Pada rerumputan yang basah ku berharap akan menyampaikan semuanya padamu di sana.
Dalam kegelapan ini, aku bernyanyi lagu sepi. Di tepian lembah mandalawangi ini aku sendiri, tanpa dirimu ada di sisiku. Andai kau tahu, dalam lelap pun terus ku sebut namamu. Mengapa kau harus pergi. Mengapa kau harus meninggalkanku waktu itu.
Kembalilah sayangku, kembalilah kasih.
Kamis, 30 Juni 2016
Minggu, 26 Juni 2016
Kau yang Telah Tiada
Untukmu yang telah kembali kepada ketiadaan. Apa kabarmu di sana. Apakah penyakit yang selama ini menyiksamu masih setia menyakitimu di alam sana. Ataukah ketiadaan itu telah meniadakan penyakitmu. Aku ingin tahu, bagaimana kondisimu di sana, teman. Adakah di sana kau baik-baik saja. Adakah disana penyakit itu tiada lagi menyiksamu. Katakan padaku. Jika penyakit laknat itu masih menyakitimu disana, mengapa kau harus pergi kepada ketiadaan. Toh kau sama-sama tersiksa. Maafkan aku yang tega berkata begini, tapi aku lebih bahagia jika kau tersiksa di dekatku dari pada kau tersiksa di dalam ketiadaanmu. Jawab aku, bagaimana keadaanmu?
Aku di sini tidak baik-baik saja, jika kau di sana cukup peduli bertanya tentangku. Tapi aku tahu pasti, kau pasti peduli akanku. Aku tidak baik-baik saja, teman, sejak kau pergi tinggalkanku untuk selamanya. Kau tahu dengan pasti, sebelum hadirmu aku selalu merasa hidup ini adalah makhluk jahat, yang selalu menyakiti orang-orang sepertiku. Tidak pernah adil. Lalu hidup mempertemukan aku denganmu, mempertemukan kita. Awalnya ku fikir bahwa akhirnya hidup ini berbaik hati padaku. Tapi nyatanya ia malah ingin menjatuhkanku lebih dalam. Setelah semua perjalanan kita, tiba-tiba ia merenggutmu paksa dariku. Ternyata kau hanyalah cara hidup untuk menbuatku lebih sakit.
Aku tidak menyalahkanmu, tidak sama sekali. Walaupun kau adalah kejahatan, kekejian, kekejaman terburuk yang hidup berikan padaku, bagiku kau tetaplah sahabatku. Kau tetap angin yang menyejukkan di dalam gua panas penderitaanku. Walaupun kini kau, angin itu telah hilang, bahkan untuk selamanya, aku tetap berterimakasih padamu telah pernah hadir untukku.
Tapi mengapa hidup memberikan angin, jika setelah itu ia berubah menjadi badai yang menporak-porandakanku. Aku tak mengerti, mungkin tak kan pernah mengerti tentang hidup ini. Hidup ini memang tidak ada adilnya. Orang bilang ia adil karena tidak adil pada semua orang? Omong kosong. Bagaimana mungkin mereka yang duduk tenang di kursi kebesarannya, si atas singgasananya, di dalam istana megahnya, di atas tumpukan emasnya, bagaimana mungkin hidup tidak adil pada mereka. Hidup hanya tak adil oada orang-orang sepertiku, seperti kita. Hidup hanya bisa menyiksa orang lemah seperti kita. Hidup tidak pernah adil. Ia bukan tuhan.
Aku di sini tidak baik-baik saja, jika kau di sana cukup peduli bertanya tentangku. Tapi aku tahu pasti, kau pasti peduli akanku. Aku tidak baik-baik saja, teman, sejak kau pergi tinggalkanku untuk selamanya. Kau tahu dengan pasti, sebelum hadirmu aku selalu merasa hidup ini adalah makhluk jahat, yang selalu menyakiti orang-orang sepertiku. Tidak pernah adil. Lalu hidup mempertemukan aku denganmu, mempertemukan kita. Awalnya ku fikir bahwa akhirnya hidup ini berbaik hati padaku. Tapi nyatanya ia malah ingin menjatuhkanku lebih dalam. Setelah semua perjalanan kita, tiba-tiba ia merenggutmu paksa dariku. Ternyata kau hanyalah cara hidup untuk menbuatku lebih sakit.
Aku tidak menyalahkanmu, tidak sama sekali. Walaupun kau adalah kejahatan, kekejian, kekejaman terburuk yang hidup berikan padaku, bagiku kau tetaplah sahabatku. Kau tetap angin yang menyejukkan di dalam gua panas penderitaanku. Walaupun kini kau, angin itu telah hilang, bahkan untuk selamanya, aku tetap berterimakasih padamu telah pernah hadir untukku.
Tapi mengapa hidup memberikan angin, jika setelah itu ia berubah menjadi badai yang menporak-porandakanku. Aku tak mengerti, mungkin tak kan pernah mengerti tentang hidup ini. Hidup ini memang tidak ada adilnya. Orang bilang ia adil karena tidak adil pada semua orang? Omong kosong. Bagaimana mungkin mereka yang duduk tenang di kursi kebesarannya, si atas singgasananya, di dalam istana megahnya, di atas tumpukan emasnya, bagaimana mungkin hidup tidak adil pada mereka. Hidup hanya tak adil oada orang-orang sepertiku, seperti kita. Hidup hanya bisa menyiksa orang lemah seperti kita. Hidup tidak pernah adil. Ia bukan tuhan.
Minggu, 20 Maret 2016
Merelakan
Melepasmu, adalah sebuah kata yang
paling ia benci. Kau mungkin tahu itu, mungkin juga tidak. Baginya, melepasmu
sama saja seperti melepas setengah bagian dari kehidupannya. Baginya, melepasmu
sama saja seperti bersiap menahan air mata saat menemukan hal yang berhubungan
dengan kalian, saat melewati jalanan yang biasa kalian lalui besama, saat
menghabiskan waktu di tempat yang biasa
kalian gunakan untuk berbagi waktu berdua. Baginya, melepasmu ada sebuah hal
yang tak pernah ia harap ada dalam kisah hidupnya. Baginya, melepasmu adalah seberat
itu, sesulit itu, sesakit itu, sepahit itu.
Tapi diperjalanan tadi, ia berkata
padaku. Bahwa mungkin melepasmu adalah sebuah keharusan untuk menghilangkan
segala rasa bersalahnya terhadap dirinya, dan terhadapmu. Hadirnya kerelaan
untuk melepasmu, bukan selalu menjadi bermakna bahwa rindu itu kini telah
tiada, bahwa rasa itu telah pergi untuk selamanya. Sebuah kesadaran dalam
dirinya, bahwa Amor Vincit Omnia tidak harus selalu berarti kemenangan
atas kedekatan dan kepemilikan. Lebih dari itu, ia menyadari bahwa frasa itu
menyimpan arti lain, bahwa cinta akan menemukan jalan kebahagiaannya sendiri.
Karena kebahagiaan tidak pernah dijamin oleh kepemilikan atas sesuatu.
Maka setelah perbincangan dengannya,
setelah untaian kalimatnya berakhir, baginya tak ada lagi pintu yang harus
diketuk. Tak ada lagi kunci yang harus dicari. Tak ada lagi rumah yang harus dibenahi.
Hanya menjalani jalan yang telah digariskan untuknya, dan untukmu. Biarkan
semuanya berjalan apa adanya bersama dengan doa, tanpa satupun rekayasa yang
tercipta.
“Jika dia memang bagian diriku,
tulang rusukku yang hilang, maka pasti suatu saat kami akan kembali bersama.”
Dia berkata demikian. “Kalau ternyata bukan dia?” tanyaku. Dia tertunduk, tersenyum
lirih. “Entahlah” tutupnya.
Langganan:
Postingan (Atom)