Minggu, 08 Maret 2015

Tahniah 9 Tahun Untukmu, UKMR ITB

Sembilan tahun, bukan lagi usia yang kecil. Kini kau sudah mulai tumbuh besar. Jika dirimu seorang manusia, maka kini kau sudah bisa berlari kencang, mengejar apapun yang kau mau, apapun yang kau inginkan. Maka terimakasih telah membuat kami tumbuh besar bersamamu. Terimakasih telah mengajarkan kami bagaimana caranya berlari berasama untuk menggapai apa yang kita inginkan.

Sembilan tahun, kini kau telah mulai menjadi sosok yang lebih dewasa. Kini kau kau lebih bisa memaknai kehidupan, bagaimana berteman, bersahabat, berbudaya, bahkan berorganisasi. Maka terimakasih telah membuat kami ikut menjadi dewasa bersamamu. Terimakasih untuk segala pembelajaran yang kau berikan, tentang budaya melayu, tentang menjalankan organisasi, dan tentang arti persaudaran yang dibungkus kekeluargaan.

Sembilan tahun, hanya terimakasih yang bisa terucap untukmu. Terimakasih telah menerimaku sebagai bagian perjalanan panjangmu. Terimakasih telah mengajarkan berbagai hal. Terimakasih atas kehangatan yang kau berikan pada kami. Dan terimakasih telah memberikan teman, sahabat, keluarga kepada kami. Teruslah hangat, teruslah menjadi tempat kami kembali, dan teruslah menjadi UKMR yang dirindukan.

Perjalananmu masih sangat panjang. Doa kami menyertaimu, teruslah maju. Jadilah yang terdepan di kampus ganesha, di bidang apapun yang bisa membuatmu menjadi terdepan. Mungkin kami tak selalu bisa berlari bersamamu. Tapi akan ada selalu orang-orang hebat yang akan terus menyertai perjalananmu. Akan selalu muncul orang-orang yang dengan bahagia berlari bersamamu, aku yakin itu. Dan untuk kami, apa yang telah kau catatkan di kehidupan tak kan hilang ditelan waktu. Semua cerita dan kisah kita akan selalu ada, dan indah untuk dikenang.

Majulah unitku, jayalah unitku! Sekali layar terkembang, pantang surut kita ke belakang!

Tak Perlu Judul

Halo, buat siapapun yang membaca tulisan ini, saya kasih tau dulu nih ya. Ini tulisan random, ngasal, gak jelas. Jadi dari pada buang-buang waktu, mending baca postinga-postingan saya yang sebelum ini deh (atau sesudah ini juga boleh). Yang penting yang lain aja, jangan yang ini. Yang ini useless soalnya kalau kalian baca, sumpah deh. Buang-buang waktu doang. Jadi mending liat tulisan yang lain. Ya, meskipun gak bagus, tapi lumayanlah dari pada yang ini. Mungkin bisa baca tentang hujan juga bisa merindu, melangkah bersamamu, tentang cinta (ada tiga part btw, ini yang kedua), atau tentang mendaki gunung juga boleh. Pokoknya kalau gak mau wasting time baca selain yang ini aja ya!
Karena tulisan ini, cuma tulisan yang ditulis untuk melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan dengan baik ke hobi (bermain drum, red). Cuma tulisan yang ditulis untuk mengalihkan fikiran sejenak dari sejumlah bab pelajaran yang harus dihafal untuk tes lisan besok (tes awal praktikum, red). Cuma tulisan yang ditulis untuk mengikhlaskan beberapa kemalangan yang terjadi (kaca hp retak, red). Cuma tulisan yang ditulis untuk menyalurkan keinginan menulis (sebetulnya pengen nulis tentang yang lain tapi gagal, red). Cuma tulisan yang ditulis untuk penyemangat sebelum ujian (yang belum jelas kapan, red). Dan cuma tulisan untuk menuh-menuhin blog daripada sepi tulisan (ngejar target minimal bulanan, red).
Jadi ya, yang masih bersikeras baca tulisan ini sampai habis, ya maaf ya. Karena ini udah penghujung tulisan. Gak berisikan? Buat ending tulisannya, bikin yang bagus dikitlah biar gak terlalu rugi. Tapi endingnya cuma buat dia sih, jadi kalau bukan dia yang baca tetap useless.
Karena ini untukmu, iya kamu.
Untukmu yang saat berbicara denganmu aku menjadi gugu
Untukmu yang saat mendengarmu dunia menjadi bisu
Untukmu yang saat menatapmu senyumku tak bisa menunggu
Untukmu yang saat bersamamu aku ingin menghentikan waktu
Untukmu yang saat bermunajat pada-Nya selalu aku sebut, "Semoga dia... Boleh ya, Tuhan?"
Untukmu, boleh ya?

Jumat, 06 Maret 2015

Bahkan Hujan pun Merindu

Hujan. Padahal baru kemarin dia turun dan seakan bercerita tentang kisahnya pada bumi. Namun sore ini hujan kembali datang membasahi bumi. Hujan sore ini terasa begitu menyenangkan, begitu menyejukkan, begitu menyegarkan. Sore ini, hujan seperti sedang melepas rindunya pada bumi.

Dan aku pun begitu. Hari ini lagi-lagi aku merindu, rindu akan hadirnya dirimu di dekatku. Deras rinduku ini, adakah tempiasnya sampai di hatimu? Aku tak tahu bagaimana bersama denganmu bisa menjadi semenyenangkan ini. Aku selalu ingin bersamamu, berada di dekatmu, walau hanya untuk sekadar melakukan hal remeh. Bersamamu, hal remeh itu bisa menjadi sangat bermakna. Karena ternyata maknanya bukan tentang apa yang kita lakukan, tapi ini adalah tentang kita melakukannya bersama. Buatku, setiap detik kisah kita bisa menjadi sangat bermakna.

Selalu ada senyuman dan tawa di saat kita bersama, mengukir indah cerita untuk di masa nanti. Kita seakan tak pernah peduli apapun yang terjadi. Hujan pun bukan menjadi halangan buat kita untuk bisa menghabiskan waktu bersama. Seperti yang kamu katakan; kalau kita selalu mnunggu hujan reda, kita takkan pernah tahu apakah perjalanan itu akan dimulai sama sekali. Itu mengajarkanku satu hal; aku tak perlu takut kehujanan, jika ada kamu yang menemaniku bermain hujan. Karena dinginnya hujan di malam hari pun takkan mungkin bekukan kita. Selalu ada kehangatan ketika kita bersama.

Namun waktu seakan menjadi hukuman buat kita. Ia berlalu begitu singkat bila kita lalui berdua. Andai saja aku bisa memperbudak waktu, akan ku perintahkan dia berhenti bila kita sedang bersama. Agar aku tak perlu dengan tega membunuh rindu tiap kali ia muncul. Berat sekali melakukan hal itu, karena itu berarti aku harus menikam hatiku hampir setiap detik. Aku tak tahu bagaimana aku bisa menjadi seperti hujan, yang selalu merindukan bumi hingga ia turun tiap harinya untuk bertemu dan berbagi kisah. Dan aku ingin kamu menjadi bumiku, yang selalu mau menerima kedatanganku dengan tangan terbuka dan senyum hangatmu. Hujan dan bumi, yang selalu bersama tapi tetap saling merindukan. Karena hujan dan bumi tercipta untuk selalu bersama dan saling sempurnakan. Kita juga begitukan.