Tuhan, aku jauh lebih suka ciptaan-Mu dibandingkan cipataannya ciptaan-Mu. Ya, aku lebih suka mahakarya-Mu dibandingkan mahakarya manusia, apapun!
Aku pernah diperlihatkan berbagai gedung tinggi ciptaan manusia, mewah, pencakarlangit. Mereka menyebut itu sangat indah. Tapi buatku, itu biasa saja. Karena aku pernah Engkau perlihatkan berbagai gunung ciptaan-Mu. Tak ada sedikitpun kemewahan disana malah kesederhanaanlah yang diajarkannya. Dia bukan pencakar langit, dialah sang penopang langit. Aku lebih suka padanya, pada gunung, dibandingkan pada gedung. Aku jauh lebih tertarik berjalan di gunung, daripada di gedung.
Aku pernah melihat bagaimana kilau kemilaunya lampu-lampu kota, berbagai warna, sangat indah dipandang dari ketinggian, kata mereka. Tapi buatku, itu biasa saja. Karena aku pernah Engkau perlihatkan kerlipan cahaya buatan-Mu, cahaya bintang gemintang di langit malam. Menenangkan, tak pernah sedikitpun menyilaukan. Aku jauh lebih menyukai cahaya bintang, daripada cahaya lampu.
Aku pernah mendengar berbagai jenis irama, bertempo pelan dan cepat, bisa mempengaruhi suasana hati, kata mereka. Tapi buatku, itu biasa saja. Karena Engkau pernah memperdengarkan padaku suara semesta-Mu, yag jauh lebih merdu. Lebih menenangkan, meskipun tanpa tempo sedikitpun. Aku lebih suka suara semesta, daripada alunan musik.
Dan dari semua ciptaan-Mu yang indah, Kau begitu luar biasa telah menciptakan dia, yang bisa mengalihkan keindahan ciptaan-Mu yang lain. Dia, yang saat bersamanya gunung bukan lagi untuk menikmati kesendirian, tapi untuk menikmati kebersamaan. Dia, yang saat bersamanya bintang menjadi terlihat sedikit, kalah oleh pesonanya. Dia, yang saat bersamanya bukan suara semesta yang ingin didengar, tapi semua kisahnya.
Karena dia, begitu indah.
Kamis, 29 Januari 2015
Selasa, 27 Januari 2015
Menjadi Diriku
A : Hei, ada apa? Kau terlihat tak seceria biasanya?
B : ........
A : Jangan katakan kau seperti ini karena hal itu?
B : Kau tahu, terkadang aku lelah dengan semua ini, aku harus menjadi seseorang yang bukan diriku
A : Dulu sudah ku katakan bukan, bahwa menjalani kehidupanmu yang sekarang ini sangat tidak mudah, tidal seperti yang kau bayangkan. Semua tidak akan selalu berjalan sesuai rencanamu. Tapi kau selalu merasa yakin dengan dirimu, kau terlalu naif.
B : Ya, memang aku terlalu naif dengan keputusanku itu. Tapi jika aku punya begitu banyak pilihan untuk menjadi orang yang seperti apa, mengapa tak bisa ku temukan pilihan untuk tetap menjadi diriku sendiri, untuk menjalaninya dengan caraku?
A : Bukan saatnya menyesali yang terjadi, semua ini adalah bagian dari sebuah rencana besar kehidupanmu yang pasti akan sangat menyenangkan. Kau tahu, justru dengan sikapmu yang seperti ini kau bukanlah dirimu, kau yang ku kenal adalah kau yang selau tersenyum.
B : Ya, mungkin kau benar, aku harusnya bisa menempatkan diriku pada suatu situasi.
A : .......
B : Kau tahu, kini aku sadar sesuatu.
A : Apa?
B : Aku sadar, bahwa hanya denganmu aku bisa tetap menjadi diriku sendiri, dan itu selalu membuatku merasa bahwa kau begitu hebat. Aku selalu ingin denganmu, karna aku temukan kebahagiaan dengan menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Kau tahu, mungkin kau juga termasuk bagian dari rencana besar itu.
B : ........
A : Jangan katakan kau seperti ini karena hal itu?
B : Kau tahu, terkadang aku lelah dengan semua ini, aku harus menjadi seseorang yang bukan diriku
A : Dulu sudah ku katakan bukan, bahwa menjalani kehidupanmu yang sekarang ini sangat tidak mudah, tidal seperti yang kau bayangkan. Semua tidak akan selalu berjalan sesuai rencanamu. Tapi kau selalu merasa yakin dengan dirimu, kau terlalu naif.
B : Ya, memang aku terlalu naif dengan keputusanku itu. Tapi jika aku punya begitu banyak pilihan untuk menjadi orang yang seperti apa, mengapa tak bisa ku temukan pilihan untuk tetap menjadi diriku sendiri, untuk menjalaninya dengan caraku?
A : Bukan saatnya menyesali yang terjadi, semua ini adalah bagian dari sebuah rencana besar kehidupanmu yang pasti akan sangat menyenangkan. Kau tahu, justru dengan sikapmu yang seperti ini kau bukanlah dirimu, kau yang ku kenal adalah kau yang selau tersenyum.
B : Ya, mungkin kau benar, aku harusnya bisa menempatkan diriku pada suatu situasi.
A : .......
B : Kau tahu, kini aku sadar sesuatu.
A : Apa?
B : Aku sadar, bahwa hanya denganmu aku bisa tetap menjadi diriku sendiri, dan itu selalu membuatku merasa bahwa kau begitu hebat. Aku selalu ingin denganmu, karna aku temukan kebahagiaan dengan menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Kau tahu, mungkin kau juga termasuk bagian dari rencana besar itu.
Masa Lalu
Tentang masa lalu, terkadang adalah suatu hal yang menarik untuk diceritakan. Di lain sisi, terkadang ia menjadi suatu yang sangat tak ingin diungkit kembali. Tapi bukankah masa lalu adalah hal yang sangat berharga untuk dijadikan pembelajaran ke depannya. Lalu mengapa terkadang kita enggan untuk mengetahui masa lalu? Mengapa kita enggan untuk mengetahui sejarah?
Ya, sejarah adalah suatu hal yang sangat penting untuk dipelajari, untuk diambil pembelajarannnya. Bahkan ada yang mengatakan 'bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya'. Tapi apa yang terjadi pada bangsa ini? Pelajaran sejarah menjadi waktu yang digunakan untuk 'istirahat', bahkan tidur. Sedikit sekali orang yang tertarik dengan pelajaran satu ini. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Setelah membaca tulisan seorang dosen disini, mungkin jawabannya adalah karena sejarah yang diceritakan kembali di masa ini, hanya mengambil bagian konflik fisiknya saja. Tak pernah sejarah menceritakan konflik perasaan yang terjadi di kala itu. Tidak ada penggambaran emosi pada sejarah yang diajarkan, yang diceritakan. Padahal, cerita tentang perasaan dan emosi lah yang membuat suatu tulisan dan cerita lebih menarik. Sepertinya kita harus banyak belajar bagaimana caranya menggambarkan perasaan dan emosi dengan baik dalam sebuah sejarah. Sepertinya bangsa ini akan lebih suka dan mencintai sejarah, dan menjadi bangsa yang besar.
Dan tentang sejarah, tentang masa lalu, ia tak pernah pergi meninggalkan kita, justru kita yang perlahan bergerak menjauh darinya.
Ya, sejarah adalah suatu hal yang sangat penting untuk dipelajari, untuk diambil pembelajarannnya. Bahkan ada yang mengatakan 'bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya'. Tapi apa yang terjadi pada bangsa ini? Pelajaran sejarah menjadi waktu yang digunakan untuk 'istirahat', bahkan tidur. Sedikit sekali orang yang tertarik dengan pelajaran satu ini. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Setelah membaca tulisan seorang dosen disini, mungkin jawabannya adalah karena sejarah yang diceritakan kembali di masa ini, hanya mengambil bagian konflik fisiknya saja. Tak pernah sejarah menceritakan konflik perasaan yang terjadi di kala itu. Tidak ada penggambaran emosi pada sejarah yang diajarkan, yang diceritakan. Padahal, cerita tentang perasaan dan emosi lah yang membuat suatu tulisan dan cerita lebih menarik. Sepertinya kita harus banyak belajar bagaimana caranya menggambarkan perasaan dan emosi dengan baik dalam sebuah sejarah. Sepertinya bangsa ini akan lebih suka dan mencintai sejarah, dan menjadi bangsa yang besar.
Dan tentang sejarah, tentang masa lalu, ia tak pernah pergi meninggalkan kita, justru kita yang perlahan bergerak menjauh darinya.
Langganan:
Postingan (Atom)