Jumat, 27 Desember 2013

Kutipan #6 Bird and Branch

(gambar disadur dari sini)
"a bird sitting on a tree is never afraid of the branch breaking. because her trust is not in the branch, but in her own wings." trust yourself.

 via @Derpey

Liburan Akhir Tahun 2013

libur tlah tiba.

pulang ke rumah. ya, itulah hal yang hampir pasti dilakukan setiap mahasiswa perantauan di waktu liburan. termasuk saya. namu, ada yang sedikit berbeda di liburan kali ini dibandingkan liburan-liburan sebelumnya. ada beberapa kenyataan yang harus saya terima. baik manis atau pahit. di tulisan kali ini saya akan coba ungkapkan hal-hal itu.

hal pertama yang menjadi perbedaan liburan kali ini dengan liburan-liburan sebelumnya, yang menjadi kenyataan pahit yang harus saya terima adalah, bahwa beliau yang biasanya selalu ada di rumah ketika saya pulang, selalu menyambut saya dengan tangisan harunya, dengan mengalirnya bulir air dari mata beningnya, kini beliau telah tiada. beliau ternyata lebih disayang allah, dan dipilih untuk menemuinya terlebih dahulu. beliau adalah nenek saya, beliau yang akrab saya sapa amak. allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu'anha. semoga beliau deiberikan tempat terbaik di sisi allah. amin. mulai liburan kali ini, dan liburan berikutnya, tak kan ada lagi tangis haru yang akan menyambut kedatangan keluarga kami di rumah ini.

berikutnya, kenyataan indah yang saya temui ketika pulang. hal ini adalah hal yang juga pasti selalu saya temukan di saat saya pulang mengisi waktu liburan. hal itu adalah bahwa setiap waktu saya samai di rumah, memasuki kamar, pasti kamar saya telah tertata dengan sangat rapi. lengkap dengan lantai tanpa sedikitpun kotoran yang ada padanya, dengan tempat tidur yang telah dibungkus nyaman oleh seprai wangi yang baru dipasang. ah, itulah kebaikan seorang ibu, bukan. beliau yang selalu bahagia menyambut kedatangan  kita, anak-anaknya. bahkan saking gembiranya, mereka akan menyambut kita dengan segala persiapan terbaik yang akan dilakukannya, sebagai luapan perasaan bahagianya itu. tiadalah seorang pun yang akan mampu menandingi kebaikan, ketulusan, dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. kami, anakmu, menyayangimu dengan setulus hati, meski hal itu tak pernah terucap dari mulut kami, wahai ibunda. semoga allah selalu melindungi dan menyayangimu.

kemudian, hal berikutnya adalah bahwa di liburan kali ini, sama seperti liburan semester sebelumnya, akan ada seorang gadis kecil, yang imut dan lucu yang akan hampir selalu menemani ku di setiap hari liburan ku ini. gadis kecil gendut ini adalah keponakanku, aqila namanya. umurnya setahun tiga bulan. ukuran badannya subur sekali, enak untuk dicubit, apalagi pipinya yang bulat. omongannya yang entah apa, hanya bisa bersuara aneh ala khas bocah kecil, selalu menyemarakkan rumah ini. memang, anak kecil adalah hal paling menyenangkan untuk dilihat. kebahagiaan mereka, kegembiraan mereka yang sangat sederhana, membuat dunia kita menjadi lebih indah dan semarak. mereka memang karunia buat orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

mungkin itullah beberapa hal yang saya dapatkan ketika pertama kali tiba di rumah pada saat liburan kali ini. di samping hal-hal lain seperti mulusnya jalan di kota kelahiranku ini, pekanbaru. berbeda sekali dengan jalanan di kota tempat ku kuliah sekarang, bandung, yang jalanannya masih ada yang berlobang, bopeng. atau hal lain tentang lingkungan sekitar di pekanbaru yang juga berbeda dari lingkungan di bandung.akan menjadi tulisan yang lebih panjang lagi jika dibahas. jadi sudahi sajalah tulisan kali ini. terakhir, selamat buat arsenal, yang berhasil meraih kembali puncak klasemen BPL. pertahankan hingga meraih gelar juara bung!

buat penutup, saya akan tampilkan sedikit gambar ponakan saya yang super lucu itu.



 

Senin, 23 Desember 2013

Ketika Cinta Tak Harus Memiliki

(gambar disadur dari sini)
tersebutlah seorang pemuda yang merupakan pendatang di suatu kota. dia adalah seorang pemuda yang telah memiliki cukup kedewasaan dan kemapanan untuk menyempurnakan separuh agamanya. menikah. mimiliki pemikiran yang hebat, harta yang lebih dari cukup, dan pengalaman yang luar biasa. pun kini di hatinya telah ada nama seorang gadis yang dipilihnya. bukan, bukan dalam bentuk kekasih yang ia inginkan untuk selalu ada di sampingnya. bukan itu. tapi sebuah pilihan yang lebih berdasarkan bentuk cinta pada yang paling dicintainya. sebuah bentuk pilihan yang didasarkan pada akal sehat, bukan keindahan pandangan mata, kelembutan pendengaran telinga, bukan sekadar getaran hebat dalam dada. lebih dari itu, pilihan menurut perasaan yang halus, ruh yang suci. pilihan setelah bertanya pada yang paling dicintainya.

tapi apa daya, di kota itu ia hanyalah seorang pendatang, yang tenggelam di tengah dalamnya tradisi yang ada pada kota itu. tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa keluarga. sendirian. untuk itu, ia meminta tolong pada seorang sahabat baiknya yang berasal dari kota itu, untuk membantunya mengkhitbah (meminang) gadis yang menjadi pilihannya. orang yang dimintai tolong olehnya bukan hanya seorang sahabat biasa. ia meminta tolong pada orang yang telah dipersaudarakan dengannya, yang telah memiliki ikatan persaudaraan atas dasar lebih dari persaudaraan darah, atas dasar persaudaraan iman. atas dasar cinta pada yang paling mereka cintai. kepada orang inilah ia meminta tolong untuk mengkhitbah gadis yang dipilihnya.

gembira, haru, bahagia. betapa perasaan senang luar biasa yang dirasakan oleh saudaranya tersebut, hingga yang meminta tolong dan yang diminta saling merangkul dalam kehangatan luapan emosi kegembiraan yang luar biasa hingga membuat mereka harus menahan jatuhnya butiran air mata. yang dimintai tolong menganggukkan kepala pertanda akan dengan langkah yang ringan membantunya. seletah persiapan dirasa cukup, dengan mahar yang yang telah diupayakannya dengan seluruh gerakan jiwa raganya, dua bersahabat ini melangkah dengan langkah yang indah, berjalan menuju rumah yang dituju. rumah sang gadis yang akan di khitbah.

hingga pada saatnya, sampailah mereka di rumah orang tua gadis yang ingin mereka khitbah. dengan mengerahkan segala upaya terbaiknya, sang sahabat pelamar mengutarakan maksud kedatangan mereka. mengkhitbah sang putri tercinta pemilik rumah. berbicara sang sahatab, tentang sahabatnya yang memiliki hajat, menamaparkan siapa sahabatnya ini. dengan logat dan nada bicara khas penduduk asli kota itu, sang sahabat berbciara pada sang pemilik rumah.

selesai menyampaikan maksud kedatangan dan berbicara menjelaskan tentang sahabatnya yang ingin melamar, sang bapak pemilik rumah meminta waktu pada mereka, tak lama, hanya untuk berjalan menuju kamar anak gadisnya, untuk bertanya langsung pada putrinya yang sedari dua sahabat ini menginjakkan kaki di rumah itu, telah mendengarkan percakapan mereka bersama ayahandanya, dari balik tirai kamarnya.

beberapa menit menunggu dengan hati yang berdebar, pemuda yang ingin mengkhitbah dan sahabatnya mendengarkan suara dari dalam kamar tempat sang gadis berada. suara seorang perempuan. ibu sang gadislah yang kemudian berbicara menjawab khitbah yang disampaikan sang sahabat untuk pemuda yang ingin mengkhitbah.

"maafkan kami atas keterusterangan ini," suara nan syahdu itu memulai jawaban," karena anda berdua datang kemari mengkhitbah putri kami, dengan mengharap ridho-Nya, kami menolak pinangan itu. tetapi, jika pemuda yang datang untuk menemani memiliki tujuan yang sama dengan yang ditemani, maka sungguhlah putri kami telah memiliki jawaban untuk mengiyakan tujuan tersebut,"

kenyataan dari sebuah jawaban yang sangat memilukan. keterusterangan yang mengejutkan. sebuah ironis, sekaligus indah. sang gadis lebih tertarik dan memilih orang yang menyertai, orang yang dimintai tolong, orang yang sudah melebihi saudara sedarah bagi sang pemuda yang ingin mengkhitba., sang gadis lebih memilihnya dari pada sang pemuda pengkhitbah itu sendiri. mengejutkan dan ironis, menghentakkan bahkan meremukkan jiwa dan perasaan, andai saja sang pemuda yang ditolak hanyalah seorang pemuda biasa. tapi tidak. sekali-kali tidak. kisah ini tidak menjadi kisah yang berakhir demikian. kisah ini menjadi indah.

alangkah indahnya reaksi sang pemuda, yang jika ia hanya seorang pemuda biasa, bayangkan perasaannya ketika perasaan cinta dan persaudaraan bertemu, bahkan bertabrakan, bergejolak berebut tempat dalam hati. tapi lihatlah bagaimana reaksinya. bagaimana kesadaranlah yang dikuasainya; kesadaran bahwa ia sama sekalai tak punya hak apapun, tak punya hak sedikitpun atas orang yang dicintainya. alangkah hebat dan indahnya jawaban pemuda ini.

"Allahu Akbar!" serunya,"semua mahar dan nafkah yang telah kupersiapkan ini akan aku serahkan pada sahabatku ini, dan aku akan menjadi saksi dalam pernikahan kalian! berbahagialah, saudaraku!"

tak sedikitpun kekesalan yang terbersit dalam hati dan pikiran pemuda itu. ia berujar demikian dengan penuh suka cita. dengan keikhlasan yang bahkan belum tentu kita pun mampu mencapainya dalam kasus kita kehilangan suatu barang. bukan berarti sang pemuda tak mencintai sang gadis. tidak. ia hanya tahu, bahwa cinta tak harus memiliki. bahkan tak satupun di dunia ini adalah miliknya. semuanya hanya titipan, amanah dari sang maha memiliki. ia hanya tahu, bahwa mencintai adalah untuk memberi, bukan meminta. ia hanya tahu, bahwa cinta yang paling tinggi hanyalah untuk ilahnya. ia hanya tahu, bahwa ia takkan pernah mau kehilangan ilahnya, kehilangan yang paling dicintainya. ia hanya tahu, allah akan selalu bersamanya.

dialah, Salman Alfarisi.