Kamis, 01 Januari 2015

Waktu..?

Halo semua! Perkenalkan, namaku Hapis. Baru kali ini aku menulis disini, tak seperti Andi yang sudah dua kali menulis disini. Dan kalau dia membahas tentang cinta, aku lebih suka membahas hal yang berbau ilmiah. Untuk kali ini, dikali pertama aku menulis disini, aku ingin sedikit menulis tentang waktu. Ya, tentang waktu.

We all have our time machines. 
Some take us back, they're called memories. Some take us forward, they're called dreams.

waktu.. waktu adalah suatu yang abstrak didalam hidup ini. waktu adalah suatu hal yang mungkin bisa dianggap hal paling berharga di dunia ini dan bahkan juga bisa dianggap hal yang paling sepele di dunia. waktu bisa membuatmu jatuh dengan penyesalan dan bisa membuatmu bangkit dengan harapan. 

satu hal pertanyaan yang membesit dibenak ini, apa waktu bisa diulang? apa waktu bisa kembali? apa waktu bisa diubah? agar semua kesalahan dan penyesalan di masa yang lampau bisa kita ulangi dan kita ubah? yah pertanyaan itu sudah memiliki jawaban. waktu tidak dapat diulang, kita tidak dapat kembali ke masa lalu. kita hanya dapat melihat masa lalu dalam sebuah kenangan. setidaknya hal itulah yang akan memberikan kita pelajaran agar lebih baik kedepan. membuat kita bangkit dan tidak melakukan kesalahan yang sama kedepan. membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih jalan hidup kedepan. agar kita menjadi yang lebih baik kedepan. yah di masa yang akan datang kelak, hal itu akan menjadi mimpi-mimpiku. kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepan. yang hanya kita bisa lakukan hanya berharap dan bermimpi setinggi-tingginya

karena

dia bisa mengatur
dia bisa diatur
dia hanya tidak bisa kembali lagi.

dia adalah waktu.

Oleh: Tengku Hafizh Vahryan Yahya

Entah di Masa Depan

Waktu pergantian tahun. Aku tidak termasuk orang yang mengistimewakannya. Dalam keyakinanku, hari ini tiada bedanya dengan hari-hari lainnya. Karenanya, disini bukan suatu kejadian di waktu setahun kebelakang yang akan aku tuliskan. Bukan pula rencana dalam jangka waktu setahun ke depan. Biarlah orang lain yang membahasnya, dalam tulisan mereka. Yang ingin ku tulis disini, adalah tentang waktu itu sendiri.
Ya. Waktu, adalah suatu dimensi ke empat yang saat ini dimiliki oleh umat manusia. Ah, tidak. Manusai saat ini belum memilikinya, hanya bisa mengetahuinya. Waktu, adalah dia yang selalu bergerak tak pernah berhenti, atau setidaknya hingga saat ini. Sampai nanti sangkakala ditiup, waktu akan terus bergerak, tiada sedikitpun berhenti. Banyak kini teori yang mulai membahas tentang waktu. Ada yang berpendapat bahwa waktu bisa memanjang dan memendek, bisa berjalan leboh cepat atau lebih lambat, tergantung dari sudut pandang orang yang menjalami waktu itu sendiri. Ya, dilatasi waktu. Banyak yang berharap dan bermimpi, bahwa pengetahuan tentang dimensi waktu ini akan terus berkembang dan berkembang. Hingga pada saatnya nanti, manusia akan benar-benar nisa menguasai waktu, baik kembali mengulang waktu, ataupun mempercepat waktu. Banyak orang bermimpi bahwa itu bisa terjadi suatu saat nanti.
Tapi, menurutku itu tak akan bisa terjadi. Mungkin sebagiannya bisa, tapi tidak sebagian lain. Mungkin manusia bisa mempercepat waktu, atau dalam kata lain pergi ke masa delan. Tapi pergi ke masa lalu? Ah, tidak mungkin, menurutku. Mengapa?
Gampang. Kita bisa pergi ke masa depan, dengan rekayasa. Bagaimana jika kita berjalan melebihi kecepatan cahaya, atau berada di suatu tempat yang perbedaan waktunya dengan bumi sangat jauh, lalu kita baru kembali ke bumi setelah beberapa waktu. Bukankah saat kembali kita sudah menemukan bumi masa depan? Ya, kita akan berada di masa depan. Tapi untuk ke masa lalu, apa yang bisa kita lakukan? Tak ada, bukan? Hanya satu yang mungkin menjadi mesin waktu untuk pergi ke masa lalu, yang lasti dimiliki semua orang. Dialah kenangan. Hanya itu yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu.
Hei, kalaulah pergi ke masa depan memang bisa dilakukan, sudikah kau ke masa itu bersamaku? Karna aku tahu, bersamamu saat ini adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan. Entah di masa depan.

Sabtu, 27 Desember 2014

Mentari Senja

Waktu itu, di hadapan cahaya merah mentari senja pantai selatan, seorang perempuan berkata padaku," hei, akhirnya aku bisa lari dari semua orang, terimakasih telah mengajakku ke tempat sesunyi ini. Sudah lama aku tak merasakan bagaimana rasanya dalam kesunyian, kesendirian, kehampaan, yang hanya bertemankan derau ombak yg berbisik, kicauan burung camar yang seakan bersenandung, dan gesekan daun kelapa yang menambah indah suasana sepi sunyi sendiri ini. Terimakasih, Rey."
Aku tersenyum," apa yang tiba2 membuatmu merasa sangat ingin sendiri, sampai-sampai meminta tolong pada seorang penyendiri seperti ku ini?" tanyaku padanya.
"Kau tahu, Rey, belakangan ini banyak lelaki mendatangiku." Jawab wanita itu singkat.
"Maksudmu, untuk menjadikanmu pendamping hidup mereka?" lanjutku, ingin tahu.
"Tidak, Rey, tidak sejauh itu." jawabnya sambil sedikit tersenyum. "Mereka memintaku untuk menjadi kekasih mereka." sambungnya.
"Mereka?" tanyaku, semakin tertarik untuk tahu kisah temanku wanita ku ini.
"Ya, banyak sekali yang akhir-akhir ini datang dan mengutarakan perasaannya padaku seperti itu, Rey. Mungkin jika hanya satu dua orang, aku akan merasa senang, tapi kalau 4 orang, aku harus bagaimana, Rey?" jelasnya, lantas bertanya padaku.
"Entahlah, aku tak begitu mengerti masalah ini. Kau tahu, kan, aku ini cuma seorang yang suka menyendiri di semesta ini, aku lebih memilih untuk bersama alam ketimbang bersama orang yang tak terlalu ku kenal. Aku hanya terbuka dengan orang-orang yang sudah lama ku kenal dekat seperimu. Mana mungkin aku bisa memberi solusi padamu, hehe, maafkan aku." balasku.
Sambil tersenyum, ia berkata "benar juga kau, Rey. Kalau begitu, jika kau adalah ayahku, lelaki seperti apa yang akan kau pilihkan untuk anakmu ini, Rey?"
"Hmm, yang pasti bukan seperti yang berempat itu, yang sampai membuatmu risih dan ingin mengasingkan diri seperti sekarang ini." jawabku.
"Haha, kau tipe ayah seperti itu ya, Rey. Kalau begitu, jika anakmu lelaki, wanita yang mana yang akan kau pilihkan untuk anakmu itu?" ia kembali bertanya.
"Hmmm.." Aku menimbang,"Wanita yang sampai dikejar oleh 4 lelaki sekaligus." jawabku.
Wanita itu tersipu, tersenyum syahdu, menatap pada cahaya merah mentari senja pantai selatan.